Rabu, 17 Januari 2018

ARCA GANESHA DI KEJAWANG


Nama Desa Kejawang memiliki kedudukkan historis yang dikaitkan dengan eksistensi Pangeran Diponegoro, dimana beberapa hari sebelum Pangeran Diponegoro melakukan perundingan di Magelang, dua desa yaitu Remo Kamal dan Kejawang menjadi tempat persinggahan sementara. Ravie Ananda dalam artikelnya, Kejawang-Karangsari, Keping Penutup Perang Dipanegara menyebutkan perihal Kejawang sbb, “Sebuah tempat di puncak gunung Tambaksari (kini Desa Kejawang kec. Sruweng) selama hampir 1,5 tahun menjadi tempat tinggal dan markas Pangeran Dipanegara. Dari tempat ini lah beliau mengatur strategi  peperangan  di wilayah Bagelen dan sekitarnya sehingga Pangeran Dipanegara dikenal sebagai Sultan van Kejawang” (1).

Senin, 15 Januari 2018

JEJAK JEPANG DI BUKIT GAJAH, ARGOPENI


Usianya sudah renta, namun ingatan dan pendengaran serta langkah kaki masih memperlihatkan jejak kelincahan pada masanya. Setiap pertanyaan yang disampaikkan dijawab dengan baik dan lancar sekalipun tidak banyak informasi dapat digali dari percakapan seputar keberadaan tempat pertahanan dan pengintaian Jepang berbentuk bangunan kotak yang ditutupi tanah yang terletak di Bukit Gajah, Desa Argopeni Kecamatan Ayah Kabupaten Kebumen, berjarak 200 meter sebelah Timur Wisata Alam Wanalela. Dialah Mbah  Kamulya (89 tahun) yang merupakan satu-satunya saksi hidup yang pernah terlibat dalam pembangunan  tempat pengintaian dan pertahanan Jepang tersebut.

Rabu, 27 Desember 2017

POSITIONING DAN PERTIMBANGAN SOSIOLOGIS PERENCANAAN KAWASAN KARANGSAMBUNG DAN KAWASAN KARST GOMBONG SELATAN SEBAGAI GEOPARK NASIONAL

 http://irandoostan.com/dostcont/uploads/2016/07/Qeshm-Geopark-Advisor-Is-Selected-As-UNESCO-Geoparks-Council.jpg

Akhir-akhir ini kita kerap mendengar istilah Geopark yang dihubungkan dengan lokasi yang sarat dengan situs geologis Karangsambung dan juga Kawasan Karst Gombong Selatan. Namun apa dan bagaimanakah Geopark itu? Apa nilai dan manfaat Geopark bagi masyarakat? Sebelum membicarakan lebih jauh perihal pemosisian wilayah Karangsambung dan Kawasan Karst Gombong Selatan sebagai kawasan strategis Geopark Nasional, kita akan awali dengan pemahaman perihal konsep Geopark

Selasa, 12 Desember 2017

MEWASPADAI SIKLUS BUNUH DIRI DI KEBUMEN

 
Menurut catatan Koran Kebumen Ekspres daftar orang-orang yang melakukan tindakkan bunuh diri di Kebumen sepanjang Agustus hingga Desember mencapai 18 jiwa (KE 6 Des 2017). Beberapa kasus bunuh diri al., Sarjono tewas bunuh diri menenggak racun (3 Nov 2017), Maulana Aan Abdillah menggantung diri (18 Nov 2017), Lasiyah (25 Nov) seorang berinisial BDN tewas menyemplungkan diri dalam sumur (4 Des 2017), seorang berinisial AN tewas tergantung di dekat kandang ayam (3 Des 2017).

Kejadian bunuh diri ini sudah terpolakan sebelumnya karena ternyata sepanjang Sepanjang 2015-2016 kasus ini tidak berkurang malah bertambah. Tahun 2015 telah terjadi beberapa kali kasus kematian akibat bunuh diri di Kebumen (10 Januari, 20 Maret, 10 April, 27 Agustus). Sementara tahun 2016 sudah mencapai sepuluh kasus (23 Januari, 9 Februari, 24 Maret, 10 April, 30 April, 8 Mei, 9 Mei, 22 Mei, 13 Juni, 23 Juni).

Minggu, 05 November 2017

CATATAN DAN ULASAN BUKU “ANAK KOLONG” KARYA YAN LUBIS (DR. Rusdian Lubis)

Disampaikan di Museum Rumah Martha Tilaar, Gombong
5 November 2017

Introduksi

Mengulas buku dengan judul “Anak Kolong” karya Yan Lubis atau DR. Rusdian Lubis sungguh merupakan sebuah kehormatan, kejutan serta beban buat saya selaku pengulas. Kehormatan, karena ini adalah sebuah buku karya seorang Doktor Ilmu Manajemen Sumber Daya Alam lulusan Oregon University yang pernah menjadi seorang Direktur di lingkungan Kementrian Lingkungan Hidup. Kejutan, karena sejak saya tumbuh menjelang remaja di Bandung dan bersekolah dasar di SD Angkasa dan sekolah menengah atas di SMA 9 Bandung dimana kedua lokasi sekolah tersebut berada dekat dengan lingkungan militer TNI AU dan Pabrik Pesawat Nurtanio, maka istilah “Anak Kolong” sudah begitu familiar di telinga anak-anak seusia saya yang tinggal di Bandung. Seperti dikatakan Yan Lubis, istilah “Anak Kolong” sendiri kerap dilekati sejumlah stigma baik perihal arogansi maupun kenakalan mereka sebagai anak-anak militer. Jika Yan Lubis mengungkapkan kekagumannya terhadap Gunung Thian San di Kirghistan yang sejak kecil hanya didengarnya melalui cerita silat masa kecilnya yaitu Hoan Kiam Kie Tjeng namun saat berhasil melihatnya dengan mata kepala sendiri saat bertugas di sana tahun 2012 berkata, “Aku dekati kaki gunung tertinggi di belahan bumi utara ini dan mengusap batu-batunya sambil berteriak: Finally, I see Tian San...”, maka saat membaca buku “Anak Kolong” saya harus berkata, “Akhirnya, saya bertemu anak kolong dan membaca buku tentang kehidupan mereka”. Beban, karena buku yang saya ulas adalah buku setebal 383 halaman yang saya baru terima hari Sabtu sore jam 16.30 sementara saya harus menyajikan ulasannya pada Minggu malam jam 19.00. Baru kali ini saya buku dalam tempo  satu hari satu malam membaca dan membuat ulasan buku tersebut. Saya jadi teringat gagasan nyleneh kawan saya Pak Sabur Herdian yang sering saja ejek perihal perlunya “kapsul buku” dimana saat seseorang menelannya maka informasi perihal buku tertentu dapat diperoleh seketika.

Kamis, 07 September 2017

MEMBANGUN KESADARAN ILMIAH: CATATAN PERINGATAN 50 TAHUN LIPI DI KARANGSAMBUNG


Dalam rangka memperingati 50 tahun kehadiran dan karya keilmuan LIPI, maka LIPI Karangsambung mengadakan berbagai kegiatan yang melibatkan siswa didik dari tingkat SD, SMP hingga SMU bahkan umum, untuk memeriahkan perayaan tersebut. Berbagai kegiatan dan lomba tersebut al., Lomba Fotografi yang diikuti 75 peserta umum dan Lomba Gambar diikuti 86 pelajar SD/MI dan Lomba Debat diikuti 12 SMP/MTs dan Lomba Karya Tulis Ilmiah yang diikuti 42 makalah tingkat SMA/SMK.

Selasa, 08 Agustus 2017

PAMERAN FOTO GOMBONG TEMPOE DOELOE DAN PENTINGNYA SEJARAH PUBLIK: Sebuah Catatan Dari Kegiatan People’s History of Gombong


Jika berbicara mengenai sejarah Kebumen khususnya Gombong dalam foto, maka kita tidak akan menemukan apa yang kita cari secara memuaskan. Jika membuka mesin pencari Google dengan kata kunci “Kebumen Tempo Dulu” atau “Gombong Tempo Dulu”, sudah lumayan banyak informasi yang kita dapatkan perihal foto-foto masa lalu Kebumen khususya di periode kolonial. Kondisi berbeda saat tahun 2000 dimana internet dan sosial media belum booming seperti saat ini. Namun demikian foto-foto yang dipublikasikan oleh website lokal di Kebumen tersebut lebih memperlihatkan aktifitas kolonial di lokasi-lokasi tertentu (aktifitas pejabat Belanda di tempat wisata dll) ataupun gedung serta bangunan hasil buatan kolonial (terowongan Ijo, jembatan Luk Ulo, pabrik minyak Mexolie, dll) dan foto-foto tersebut hasil mendownload dari situs-situs sejarah di Belanda. Namun hasil foto-foto yang dibuat oleh warga Kebumen atau Gombong di era kolonial masih begitu minim. Kondisi serupa nampaknya tidak jauh berbeda saat kita mencari foto-foto tempo dulu di kantor Arsip Daerah yang ternyata masih belum terkoleksi dengan baik. Kalaupun tersedia hanya beberapa saja yaitu profil Adipati Arungbinang, Pabrik Mexolie, Gedung Asisten Residen Kebumen dan beberapa lainnya yang lebih mempotret aktifitas militer di era kolonial Belanda.