Rabu, 11 Desember 2013

EKSOTIKA KEBUMEN: MAKSIMALISASI POTENSI GEOWISATA PANTAI MENGANTI


Dalam artikel sebelumnya, Melibatkan Potensi Geografis dan Historis Pada Kurikulum Pendidikan di Kebumen[1],saya menuliskan beberapa lokasi yang memiliki potensi geografis dan historis agar dimasukkan dalam kurikulum lokal pendidikan di Kebumen untuk membangun jati diri. Namun kali ini saya hendak menuliskan opini bahwa beberapa potensi geografis tertentu di wilayah Kabupaten Kebumen untuk dimanfaatkan secara maksimal sebagai wilayah pariwisata.

Pariwisata: Definisi & Potensi Kewisataan Kebumen

Undang-Undang RI No 10 Tahun 2009 Tentang Kepariwisataan di Pasal 1 menjelaskan mengenai Wisata, Wisatawan, Pariwisata sbb:
  1. Wisata adalah kegiatan perjalanan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang dengan mengunjungi tempat tertentu untuk tujuan rekreasi, pengembangan pribadi, atau mempelajari keunikan daya tarik wisata yang dikunjungi dalam jangka waktu sementara. .
  2. Wisatawan adalah orang yang melakukan kegiatan wisata.
  3. Pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata dan didukung berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan oleh masyarakat, pengusaha, pemerintah, dan Pemerintah Daerah[2]
Kabupaten Kebumen mempunyai luas wilayah sebesar 128.111,50 ha atau 1.281,11 km² dengan kondisi beberapa wilayah merupakan daerah pantai dan pegunungan, namun sebagian besar merupakan dataran rendah[3]. Di wilayah-wilayah pantai dan pegunungan inilah terletak berbagai potensi geografis yang sudah dan perlu dikembangkan serta dimaksimalkan menjadi potensi-potensi kewisataan.

Kamis, 05 Desember 2013

NILAI DAN KANDUNGAN BATUAN KARANGSAMBUNG SERTA PROBLEM KEEKONOMIAN PENGRAJIN BATUAN



Saya memiliki kegemaran mengoleksi berbagai cincin atau batu akik. Saat saya hendak mencari emban (penopang batu akik) yang baru, saya bertemu dengan seseorang yang mengatakan bahwa batu-batuan di wilayah Sungai Luk Ulo dan Kebumen pada umumnya tidak bagus untuk dijadikan batu akik. Orang tersebut mengatakan bahwa berbagai batu akik yang dijual di wilayah Kebumen lebih banyak batuan yang berasal dari luar Kebumen, baik dalam negeri maupun luar negeri.

Pernyataan ini mendorong saya untuk melakukan penelusuran dan pembuktian. Penelusuran dan pembuktian pertama adalah dengan mendatangi LIPI Karangsambung untuk mendapatkan penjelasan obyektif dari sudut pandang keilmuan Geologi dan mewawancarai Bapak Chusni Ansori, MT. Selaku Peneliti Madya. Penelusuran kedua adalah dengan mendatangi salah satu pengrajin di wilayah Sadang (utara LIPI) dan mewawancarai Bapak Supratikno.

Nilai Supranatural dan Nilai Natural Ilmiah

Saat penulis mewawancari Bapak Chusni Ansori, ada sebuah penjelasan yang cukup menarik terkait nilai batuan Karangsambung. Menurutnya, ada dua kelompok pemahaman yang memiliki kesimpulan berbeda terhadap obyek yang sama yaitu batuan Karangsambung. 

Kelompok pertama, adalah mereka yang menekuni dunia supranaturalis berkeyakinan bahwa batuan tertentu yaitu Eklogit dan Amfibolit mengandung daya penyembuh untuk berbagai penyakit. Proses penyembuhan dengan memanfaatkan khasiat bebatuan yang dilambari doa tertentu dan dioleskan kepada tubuh tertentu yang mengalami sakit. Bapak Chusni Ansori menyebut salah satu nama tokoh supranaturalis di wilayah Klirong yang biasa menggunakan media batuan Karangsambung untuk dipergunakan bagi proses terapeutik. Menurut beliau, batuan-batuan yang dikategorikan memiliki kemampuan supranatural tersebut jika ditelaah secara keilmuan Geologi memang termasuk bebatuan yang terbentuk dengan derajat panas dan energi yang besar. Dengan kata lain, ada korelasi ilmiah antara keyakinan supranatural terhadap bebatuan tertentu dikaitkan dengan proses pembentukannya di dalam perut bumi. Menurut Awang Harun Satyana, “Eklogit adalah batuan metamorf regional yang terbentuk pada temperatur dan tekanan tinggi(tekanan > 14 kilobar (> 1,2 Gigapascal), temperatur > 550 C, pada kedalaman > 45 km (lihat diagram fasies metamorfik terlampir). Eklogit dapat merupakan transformasi dari batuan basa/mafik seperti lava basal dan tuf basaltik, atau gabro dalam lingkungan mantel setelah memasuki fasies metamorfik sekis biru atau amfibolit. Tetapi eklogit juga dapat merupakan batuan beku hasil pembekuan magma di kerak bagian bawah atau mantel bagian atas”[1]. Menurut keterangan Bapak Chusni, Eklogit yang mengandung Garnet oleh para supranaturalis diusapkan pada bagian tertentu yang sakit sehingga mengalami kesembuhan. Garnet sendiri bermakna, “Salah satu dari sekelompok batu silikat semi mulia yang berkisar dari warna dari merah ke hijau. Garnet memiliki kekerasan 6-8 dan berat jenis 3,5-4,3”[2].

Selasa, 26 November 2013

BUKAN CANDI TAPI SANGGAR MEDITASI



Saya terkejut saat membaca laporan Kebumen Ekspres beberapa minggu lalu sbb: “Akibat sudah mulai mengalami kerusakkan, candi Wonomarto yang berada di Kelurahan Wonokriyo Kecamanaan Gombong akhirnya dipugar, Rabu (13 November 2013)” (Mulai Rusak, Candi Wonomarto Dipugar, Kebumen Ekspres 15 November 2013). Keterkejutan saya dikarenakan saya pernah menulis artikel dengan judul, “Nilai Keberadaan Lingga dan Yoni di Desa Sumberadi”[1] dimana saya pernah mengulas mengenai satu-satunya artefak kebudayaan sisa peninggalan Agama Hindu Ciwa dalam bentuk Lingga dan Yoni di desa dimana terletak Pesantren Somalangu. Sepengetahuan penulis bahwa keberadaan artefak tersebut hanya berada di desa Sumberadi tidak di tempat lain. Pemberitaan Kebumen Ekspres memunculkan minat penulis untuk mencari tahu kebenaran adanya candi lain selain yang ada di wilayah Sumberadi, Kebumen.

Pada tanggal 26 November 2013, penulis mengadakan penelusuran untuk membuktikan keberadaan candi lainnya di kawasan Kebumen dan sekitarnya. Sampailah penulis di rumah Bapak Adji Tjaroko sebagai pewaris dan pemilik lokasi yang disebut sebagai Candi oleh koran Kebumen Ekspres dalam laporannya. Namun setelah berbincang-bincang cukup lama, sebenarnya apa yang disebut dengan “Candi” sebenarnya lebih tepat disebut dengan “Sanggar Meditasi” sebagaimana pengakuan Bapak Adji Tjaroko. Adapun istilah “Candi” tidaklah tepat karena istilah Candi memiliki karakter khas sebagaimana terkandung dalam definisinya sbb: “Menurut akar katanya (etimologi),istilah Candi diduga berasal dari kata Candika yang berarti nama salah satu perwujudan Dewi Durga sebagai dewi kematian.[2] Keberadaan Candi bersifat multi fungsi. Bisa berfungsi sebagai  tempat beribadah, pusat pengajaran agama, tempat menyimpan abu jenazah para raja, tempat pemujaan atau tempat bersemayam dewa, petirtaan (pemandian) dan gapura. Walaupun fungsinya bermacam-macam, secara umum fungsi candi tidak dapat dilepaskan dari kegiatan keagamaan, khususnya agama Hindu dan Buddha, pada masa yang lalu. Oleh karena itu, sejarah pembangunan candi sangat erat kaitannya dengan sejarah kerajaan-kerajaan dan perkembangan agama Hindu dan Buddha di Indonesia, sejak abad ke-5 sampai dengan abad ke-14[3].

Sabtu, 28 September 2013

HILANGNYA ARTEFAK BERSEJARAH DI MUSEUM GAJAH: KELALAIAN SEKURITAS DAN SIMBOLISASI PENGABAIAN NILAI SEJARAH




Harian Kompas melaporkan head line berjudul, “Museum Nasional Dibobol: Empat Koleksi Emas Berumur 1000 tahun Hilang”[1]. Pencurian tersebut terjadi di Museum Gajah yang telah berdiri sejak 1778. Sejumlah benda-benda yang hilang tersebut meliputi:


Lempengan Naga. Diperkirakan telah berusia sejak 10 Masehi. Ditemukan di daerah Jalatunda, Jawa Timur, lempengan emas berbentuk naga ini merupakan peninggalan Kerajaan Mataram Kuno. Panjangnya 5,6 sentimeter dengan lebar 5 sentimeter.

Lempengan Bulan Sabit. Diperkirakan telah berusia sejak 10 Masehi. Ditemukan di daerah Jalatunda, Jawa Timur, lempengan ini juga merupakan peninggalan Kerajaan Mataram Kuno. Berbentuk lempengan bulan sabit dari emas dan di kedua ujungnya ada empat buah ukiran segitiga lancip. Segitiga ini seakan membentuk cakar. Di lempengan ini ada enkripsi jawa kuno yang sudah samar. Panjangnya 8 sentimeter dengan lebar 5,5 sentimeter.

Cepuk. Sama dengan Lempengan Naga dan Bulan Sabit, artefak ini diperkirakan berusia sejak 10 Masehi sebagai peninggalan Kerajaan Mataram Kuno. Berbentuk seperti dandang kecil dengan tutupnya, cepuk ini terbuat dari emas dengan teknik pukul, pembengkokan, dan patri. Permukaannya tidak rata tapi kokoh dan tegak. Ada ukiran yang sudah tipis. Dasarnya agak cembung dengan bibir cepuk tajam dan menghadap ke atas. Tutupnya memiliki pegangan seperti stupa dan berongga. Diameternya 6,5 sentimeter dengan tinggi 6,5 sentimeter.

Lempengan Harihara. Ditemukan di Belahan, Penanggungan, Jawa Timur. Usianya diperkirakan sejak 10 Masehi. Dengan panjang 10,5 sentimeter dan lebar 5,5 sentimeter, lempengan ini dibuat dari campuran perak dan emas. Ada relief Harihara yang sedang berdiri di atas teratai ganda. Hirahara digambarkan berkucir ke atas dengan hiasan bunga mekar. Tangan kanan diletakan di atas tangan kiri di depan perut. Di belakang kepalanya ada hiasan sinar dewa dengan lidah api dan titik-titik. Lengannya mengenakan gelang motif bunga dan ada anting bulat. Kain yang dikenakannya sebatas lutut dan mengenakan sampur semacam selendang di kanan kiri.

Berikut foto-foto artefak tersebut[2]

Senin, 05 Agustus 2013

MELIBATKAN POTENSI GEOGRAFIS DAN HISTORIS PADA KURIKULUM PENDIDIKAN DI KEBUMEN




Akhir-akhir ini dunia pendidikan kembali disibukkan dengan kontroversi tentang Kurikulum 2013. Berbicara mengenai kurikulum sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan, maka selayaknya pelaksanaan kurikulum pendidikan tidak hanya mengacu pada pola kebijakan kurikulum pemerintah pusat melainkan harus melibatkan pada pengenalan wilayah di mana para siswa didik bersekolah. Pola tersebut dinamakan kurikulum muatan lokal (mulok). Gubernur Kalimantang Tengah, A. Teras Narang SH., dalam Seminar Pendidikan Transformatif: Menganggkat Nilai-nilai Kearifan Lokal Dalam Menyikapi Arus Globalisasi di Universitas Kristen Indonesia (UKI) bulan September 2012 lalu mengatakan bahwa kurikulum muatan lokal (mulok) adalah kurikulum pendidikan yang berbasiskan berbagai potensi daerah, ciri khas daerah dan keungulan daerah yang selanjutnya disebut kearifan lokal (local wisdom" (Kurikulum Mulok Dibutuhkan Masyarakat,shnews.co).

Kabupaten Kebumen memiliki  potensi geografis dan potensi historis yang dapat dijadikan sebagai bagian dari kurikulum pendidikan baik di tingkat Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Umum dan Sekolah Menengah Atas sebagai bagian dari kurikulum muatan lokal yang turut menyeimbangkan dengan kurikulum nasional. Kita akan mengkaji secara singkat potensi geografis dan potensi historis Kebumen.

MEMETAKAN DAN MEMBENAHI SEKTOR RAWAN DI KEBUMEN




Dalam artikel saya yang berjudul, "Melibatkan Potensi Geografis dan Historis Pada Kurikulum Pendidikan di Kebumen", telah diuraikan sejumlah potensi geografis dan historis yang dapat dijadikan landasan dan acuan dalam kurikulum muatan lokal bagi para peserta didik berikut tujuannya.

Dalam kajian kali ini saya ingin mendeskripsikan sejumlah potensi-potensi kerawanan di beberapa sektor yang masih terlihat signifikan di wilayah Kebumen. Kita perlu mengenali bukan hanya sekedar potensi geografis dan historis yang kita miliki untuk jadikan asset yang dapat dikembangkan menjadi sebuah kekuatan. Sebaliknya, kita pun harus menakar dan mengukur berbagai kelemahan yang masih terjadi untuk dibenahi baik oleh para penggerak perubahan yang peduli dengan berbagai perubahan ke arah yang lebih baik untk Kebumen maupun para pemangku kepentingan yang terkait khususnya para pendidik dan pemerintahan setempat.

Memetakan Potensi Kerawanan

Beberapa potensi kerawanan yang dapat saya petakan meliputi, kemiskinan, rawan bencana, kejiwaan, HIV, pendidikan, wilayah singgah teroris. Saya akan memetakan hal-hal tersebut berdasarkan hasil pemantauan pemberitaan dari koran lokal Kebumen Ekspres dan diperkuat beberapa koran lokal atau nasional lainnya sbb:

Rabu, 03 Juli 2013

PASAR TUMENGGUNGAN: GELIAT EKSISTENSI DI ANTARA MENJAMURNYA PASAR MODERN



Setelah pelaksanaan revitalisasi pembangunan Pasar Tumenggungan, maka pada tanggal 2 Juli 2013, Pasar Tumenggungan, Kebumen diresmikan oleh Menteri Perdagangan, Gita Wiryawan. Pasar Tumenggungan dibangun dengan menghabiskan dana 51,9 milyar dan mampu menampung 3.123 pedagang setelah sebelum dibangun hanya mampu menampung 3000 pedagang[1]. Selain Pasar Tumenggungan masih ada empat pasar lainnya yang diresmikan yaitu pasar Jatisari, Pasar Tlogopragoto, Pasar Prembun, Pasar Karanganyar dan Sistem Resi Gudang (SRG) Rowokele.

Pada peresmian itu, Gita Wiryawan mengatakan, "upaya pemerintah merevitalisasi pasar ditujukan agar pasar tradisional menjadi bersih, nyaman, tertib dan sejuk sehingga mampu memperlancar arus distribusi barang, menjaga stabilitas harga, serta mengurangi disparitas antar daerah dan antar waktu", demikian ulsan koran lokal Kebumen Ekspres [2].

Artikel berikut hendak memberikan deskripsi singkat mengenai eksistensi historis Pasar Tumenggungan dan geliat serta masa depannya diantara menjamurnya pasar-pasar modern untuk sekedar melengkapi eksistensi pasar kuno ini sebagai bagian kesejarahan kota Kebumen.

Kamis, 06 Juni 2013

PABRIK MINYAK KELAPA SARI NABATIASA: PERJALANAN SEJARAH DAN ANCAMAN KEPUNAHAN EKSISTENSI



Pabrik Minyak Kelapa Sari Nabati yang berada di wilayah kelurahan Panjer, terletak di sebelah timur Stasiun Kereta Api Kebumen. Kondisinya yang sekarang telah mengalami kerusakan, memudarkan pengetahuan historis masyarakat Kebumen khususnya para generasi muda yang tidak memiliki akses historis dari sebuah perusahaan milik pemerintahan kolonial Belanda tersebut.

Kontribusi di Zaman Pemerintahan Kolonial Belanda 

Abdul Rasyid Asba dalam bukunya menyinggung keberadaan pabrik minyak kelapa di Kebumen meskipun tidak menyebutkan nama pabriknya sbb, “Secara keseluruhan, di Hindia Belanda telah berdiri Oliefabrieken Insulinde seperti Oliefabrieken Insulinde Kediri, Sentono, Blitar, Tulung Agung, Banyuwangi, Kebumen, Rangkas Bitung, Padang dan Makasar.

Setiap tahun, Oliefabrieken Insulinde tersebut secara teratur mengekspor minyak kelapa ke luar negeri. Misalnya dalam tahun 1924, jumlah ekspor minyak kelapa ke Eropa sekitar  7,96 juta liter, tahun 1925 menjadi 10,93 juta liter dan pada tahun 1928 meningkat menjadi 36,66 juta liter dan tahun 1930 turun menjadi 16,01 juta liter.

Grafik di atas menunjukkan bahwa minyak kelapa Hindia Belanda lebih banyak berasal dari Pulau Jawa. Hal ini disebabkan pula Jawa diprioritaskan untuk mengekspor minyak. Sedangkan luar Jawa lebih banyak mengekspor dalam bentuk kopra”[1].

Kamis, 25 April 2013

MEMAKSIMALKAN FUNGSI ALUN-ALUN SEBAGAI RUANG PUBLIK TERBUKA


Beberapa tahun lalu saat saya mengendarai kendaraan bermotor, tiba-tiba mobil berplat Jakarta merapat dan meminta petunjuk sebuah alamat tertentu. Dan ketika saya memberikan sebuah ancer-ancer yang harus dilewati yaitu Alun-alun, orang tersebut bertanya dengan heran apa itu Alun-alun? Saya pun tidak memberikan definisi melainkan hanya memberikan sebuah deskripsi yang mudah-mudahan dapat dia identifikasi.

Deskripsi atau gambaran umum sebuah Alun-alun adalah ditandai elemen-elemen berikut yang ada disekelilingnya yaitu: (1) Lapangan luas berbentuk bundar atau persegi empat (2) Ada pohon berigin di tengah lapangan luas (3) Ada gedung pemerintahan setempat (Bupati) (4) Masjid Agung.

Definisi Alun-Alun

Alun-alun ternyata bukan hanya dominan di Indonesia khususnya Jawa tapi juga di Mancanegara dengan sebutan Town Square[1]. Apa sesungguhnya Alun-alun itu? Dan apakah fungsi dan kedudukan Alun-alun di sebuah kota?

Jumat, 12 April 2013

MENIMBANG KARYA PEKABARAN INJIL KIAI SADRACH SOEROPRANOTO






MENYELARASKAN AKAR HISTORIS KEKRISTENAN
DAN AKAR KEBUDAYAAN LOKAL

Pendahuluan

Sejarah pekabaran Injil di Indonesia dan Jawa khususnya lebih banyak menampilkan peranan orang-orang Barat sementara aktivitas dan tokoh-tokoh pekabaran Injil Jawa kurang terekspos. Padahal peranan tokh-tokoh tersebut sangat besar bagi perkembangan Kekristenan di Jawa khususnya pada Abad XIX. Jika sejarah penyebar luasan Islam mengenal tokoh Sunan Kali Jaga sebagai bagian dari Dewan Wali Songo yang lebih banyak menggunakan pendekatan kultural Jawa,  maka penyebaran kekristenan di tanah Jawa pun melibatkan sejumlah nama dan tokoh yang kharismatik, dan menggunakan pendekatan-pendekatan kultural sehingga lebih mudah diterima masyarakat Jawa pada waktu itu. Sejumlah tokoh pekabaran Injil Jawa tersebut adalah Coolen, Tunggul Wulung, Paulus Tosari. Jika tokoh-tokoh tersebut berkarya di wilayah Jawa Timur, maka tokoh yang berkarya di Jawa Tengah dengan pusat kegiatan Karangyoso, Kutoarjo adalah Kiai Sadrach Suropranoto. Tanpa bermaksud membedakan ketokohan mana yang lebih penting namun sejauh ini saya menaruh minat yang dalam untuk meneliti karya pekabaran Injil Kiai Sadrach. Mengapa? Karena kisah kehidupan dan pelayanan Sadrach sarat dengan kontroversi yang menarik untuk diteliti. Sikap kontroversialnya bukan dikarenakan dia adalah orang suka dengan hal-hal nyleneh melainkan didasarkan keteguhan sikap dan pemahaman teologisnya yang memadai. C. Guillot memberikan penilaian tentang Sadrach sbb: “Sebagaimana halnya Coolen, Ibrahim pun kurang terpelajar. Keduanya memiliki sikap ‘orang lapangan’, berbda dengan Tosari dan Sadrach yang lebih memiliki figur ‘intelektual’ dengan membaca dan menafsirkan Kitab Suci”[1]

Mengkaji ketokohan dan peranan pekabar Injil Jawa - terlepas adanya tuduhan-tuduhan miring para misionaris Barat bahwa mereka berpotensi melakukan pendekatan yang sinkretis (dan saya pun tidak bisa menampik begitu saja tuduhan tersebut) - namun kita harus melihat secara jujur bahwa buah pelayanan mereka telah menghasilkan suatu kultur baru yaitu Jawa Kristen atau orang Jawa dengan pola pemikiran dan tindakan yang diwarnai ajaran-ajaran Injil. Sadrach sendiri melakukan pemilahan dengan melibatkan permenungan teologis, adat istiadat mana yang masih bisa diisi dengan nafas Injil dan mana yang harus dibuang. Kemampuan ini penting mengingat masih ditemui sampai hari ini, kelompok Kristen yang mengklaim sebagai pewaris pemikiran dan pergerakan pekabaran Injil Jawa seperti Tunggul Wulung, Tosari, Sadrach namun terlalu jauh terlibat dalam praktek sinkretisme dan sepi dari pemikiran kritis mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam adat istiadat Jawa.

Kamis, 14 Maret 2013

EKSOTIKA CANDI IJO: DESTINASI WISATA YANG TERLUPAKAN




Semula penulis hanya bermaksud membandingkan keberadaan Lingga-Yoni di wilayah Sumber Adi Kebumen dengan kawasan Candi Ijo, Prambanan[1]. Tidak disangka, ketika melihat lebih dekat Candi Ijo ada pesona eksotika tersendiri dibandingkan destinasi wisata situs kuno lainnya seperti Candi Prambanan dan Kraton Boko di wilayah yang tidak terlalu jauh dan lebih dikenal wisatawan mancanegara dan wisatawan lokal.

Candi Ijo adalah candi Hindu yang berada tidak jauh dari Candi Ratu Boko atau kita-kira 18 km di sebelah timur kota Yogyakarta. Keberadaan Lingga-Yoni di dalam lingkungan candi memperkuat latar belakang agama Hindu Siwa tersebut. Candi ini dibangun pada abad ke-9 pada saat zaman Kerajaan Mataram Kuno, dan terletak pada ketinggian 410 meter di atas permukaan laut.

Secara administratif, situs ini berada Dukuh Nglengkong, Dusun Groyokan, Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman yang terletak pada posisi 110 00’ 32.86” BT 07 46’ 55” LS.

Candi Ijo merupakan kompleks 17 buah bangunan yang berada pada sebelas teras berundak. Pada bagian pintu masuk terdapat ukiran kala makara, berupa mulut raksasa (kala) yang berbadan naga (makara), seperti yang nampak pada pintu masuk Candi Borobudur. Dalam kompleks candi ini terdapat tiga candi perwara (pendamping) yang menunjukkan penghormatan masyarakat Hindu kepada Trimurti: Brahma, Wisnu, dan Syiwa.

NILAI KEBERADAAN LINGGA DAN YONI DI DESA SUMBERADI


Menindaklanjuti laporan Tim Pawiyatan Kebumenan beberapa minggu lalu di desa Sumberadi mengenai keberadaan Lingga dan Yoni di kawasan TK Sumberadi dan beberapa ratus meter dari Pesantren Al Kahfi Somalangu[1], penulis mencoba menelusuri kembali jejak dan keberadaan Lingga dan Yoni di kawasan tersebut dan mencoba memperdalam makna keberadaan Lingga dan Yoni khususnya di wilayah dengan basis Keislaman yang kuat tersebut dan bagi masyarakat Kebumen pada umumnya.




Senin, 11 Maret 2013

BENARKAH WATU TUMPENG SEBUAH MENHIR?


Mengkaji Ulang Asumsi Ravie Ananda Tentang Situs Megalitikum
Di Dusun Tungku, Sadang Wetan, Kebumen


Dalam artikelnya berjudul, “Situs Megalitikum Menhir Watu Tumpeng, Tanggul Asih, Dusun Tungku, Desa Sadang Wetan, Sadang – Kebumen “, Ravie Ananda menuliskan, “Situs Megalitikum Watu Tumpeng Tanggul Asih ini termasuk dalam kategori kebudayaan Menhir. Situs ini berada di Dusun Tungku, Desa Sadang Wetan, Kecamatan Sadang, Kabupaten Kebumen, lebih – kurang 500 meter dari Wisata Embung (Telaga buatan) Cangkring yang berlokasi di Desa Cangkring, Kecamatan Sadang, Kabupaten Kebumen. Menhir ini memiliki bentuk layaknya Tumpeng (Ambeng) sebagai inti dari situs, dikelilingi oleh batu – batu yang berukuran lebih kecil dalam lingkaran terasering/berundak sehingga mirip sebuah tumpeng yang dikelilingi oleh kelengkapan lain seperti lauk pauk dan sebagainya”[1].

Saya tertarik untuk membuktikan kebenaran pernyataan di atas. Apalagi dalam penjelasan selanjutnya Ravie mengatakan adanya “batu lempeng bertuliskan huruf kuno” sbb: “Bagian inti dari situs ini yakni Batu Tumpeng dikelilingi oleh rumpun bambu. Sebelumnya terdapat pula tugu megalitikum yang terbuat dari batu yang berukuran lebih kecil dari Batu Tumpeng, sayangnya tugu tersebut kini telah hilang dan digantikan dengan tugu buatan dari semen bertuliskan 0281. Selain tugu batu, terdapat pula batu lempeng bertuliskan huruf kuno, tetapi ketika penulis dan tim “Kebumen2013” melakukan penelusuran pada 14 Agustus 2012 batu tersebut telah roboh terbalik sehingga tulisan tersebut tertimbun tanah. Robohnya batu ini disebabkan oleh kegiatan penambangan Kaolin murni/lempung putih, lempung ini dibawa ke jakarta (kegunaan kaolin untuk bahan dasar membuat keramik dan bisa juga sebagai bahan pembuat obat diare) dilokasi situs beberapa waktu yang lalu”[2].

Rabu, 06 Maret 2013

KEBUMEN PERNAH DISINGGAHI GAJAH MADA?




Koran Kebumen Ekspres memuat artikel berjudul, “Sejarah Panjer dan Kajian Ravie Ananda, Pemerhati Sejarah dan Budayawan: Disinggahi Tokoh Penting seperti Gajah Mada dan Pangeran Diponegoro” (Kebumen Ekspres, 6 Maret 2013, hal 3). Pemuatan artikel ini mengingatkan saya akan artikel tanggapan yang saya muat di blog pribadi saya (teguhhindarto.blogspot.com) dengan judul, “Memisahkan Fakta dan Fiksi Seputar Sejarah Berdirinya Kabupaten Kebumen” (teguhhindarto.blogspot.com) sebagai bentuk tanggapan atas artikel Sdr Ravie Ananda dengan judul, “Sejarah Cikal Bakal Kabupaten Kebumen” (kebumen2013.com).

Kajian dan tanggapan saya pernah saya serahkan pada Bupati Kebumen namun dikarenakan beliau sedang tidak ada di tempat maka saya menemui Sekda Kebumen Bpk Adi pandoyo beberapa waktu lalu untuk dipelajari sehubungan adanya sejumlah wacana peninjauan kembali sejarah berdirinya kabupaten kebumen oleh sejumlah elemen masyarakat termasuk sdr Ravie Ananda.

Ada pernyataan dalam Koran Kebumen Ekspres yang menggugah saya untuk memberikan tanggapan yaitu, “Meski bukan berlatar belakang pendidikan sejarah, Ravie Ananda SPd menaruh minat lebih terhadap pengkajian sejarah. Khususnya sejarah tentang Kebumen. Dengan keterbatasan dana dan fasilitas, pria 33 tahun ini telah melakukan banyak kajian...Salah satu kajian yang mencegangkan, yakni tentang Maha patih Gajah Mada moksa di Panjer...menurut Ravie, satu-satunya situs pamokshan Gajah Mada yang sejak dahulu telah diketahui masyarakat pada zaman Mataram Islam adalah di Kabupaten Panjer. Situs tersebut dihilangkan bersama kompleks makam kuno yang ada di sana oleh Belanda dengan mengubahnya menjadi pabrik minyak kelapa Sari Nabati” (Kebumen Ekspres, 6 Maret 2013, hal 3).

Benarkah Panjer kuno sebagai cikal bakal Kabupaten Kebumen merupakan tempat pamoksan Gajah Mada? Pertama, kita tidak memiliki bukti material berupa naskah manuskrip, babad yang mengisahkan dimana Gajah Mada moksa di wilayah Panjer selain asumsi belaka. Minimal Babad Tanah Jawi memasukkan kisah tersebut mengingat Panjer kuno merupakan bagian dan wilayah Mataram Islam yang berfungsi sebagai salah satu persediaan lumbung padi saat penyerangan Sultan Agung ke Batavia, apalagi dikatakan dalam artikel tersebut, “menurut Ravie, satu-satunya situs pamokshan Gajah Mada yang sejak dahulu telah diketahui masyarakat pada zaman Mataram Islam adalah di Kabupaten Panjer”. Minimnya bukti ini menggugurkan asumsi Ravie Ananda bahwa Panjer kuno adalah tempat singgah dan moksanya Gajah Mada.

KECERDASAN MORAL DAN SOSIAL DALAM BERKENDARA



Beberapa minggu lalu, tanggal 25 Februari 2013 SMK Negeri 2 Kebumen mengadakan kegiatan Safety Riding yang dibuka langsung oleh Kepala Sekolah SMK Negeri Negeri 2, Drs Widi Suseno (Puluhan Peserta Jajal Halang Rintang, Kebumen Ekspres, 25 Februari 2013, hal 8). Kegiatan tersebut berisikan sejumlah materi dan praktek berkendara, mulai penggunaan helm yang benar dan menjajal halang rintang. Kegiatan tersebut ditindaklanjuti dengan keputusan tegas mengenai larangan menaiki kendaraan bagi para siswa yang belum memiliki SIM. Kebijakan tersebut mulai dilaksanakan pada tahun ajaran baru.

Kegiatan di atas sangat positif dan patut dicontoh oleh beberapa lembaga sekolah lainnya. Setidaknya ada dua keuntungan dengan kegiatan tersebut. Pertama, menanamkan pendidikan awal terhadap sejumlah siswa/pelajar dalam kemahiran berkendara di lapangan sedini mungkin. Kedua, mencegah kecelakaan laka lantas yang banyak memakan korban dari usia-usia remaja produktif.

Angka Kecelakaan Didominasi Usia Produktif

Fakta dan data di lapangan, tahun 2010 laporan Kepolisian menyebutkan, jumlah kematian akibat kecelakaan secara nasional mencapai 31.234 jiwa. Dari jumlah tersebut 67% korban kecelakaan berada pada usia produktif yakni 22-50 tahun. Tahun 2011 laporan jumlah kematian akibat kecelakaan mencapai 32.657 jiwa. Angka ini sangat fantastis dan lebih tinggi dibanding kematian akibat penyakit bahkan peperangan. Kondisi ini membuat jalan raya menjadi tempat paling maut dan mematikan (Mayoritas Kecelakaan Usia Produktif, waspada.co.id). 

Senin, 25 Februari 2013

PESONA SITUS GEOLOGI KARANG SAMBUNG



Kebumen memiliki sebuah lokasi penting bagi studi Geologi yaitu Karang Sambung. Terletak kurang lebih 20 km dari kota Kebumen, sepanjang jalan menuju wilayah Karang Sambung, kita akan diberi sajian pesona alam yang indah. Bukan semata-mata pemandangan bentangan sawah atau rindang pepohonan pinus ketika perjalanan semakin meninggi ke utara, namun pesona khusus berupa batu-batuan alam yang besar dan membentang baik di sekitar jalanan yang dilalui atau di kelokan sungai di sebelah kiri atau kanan jalanan serta bebukitan.

Batu-batuan yang berada di wilayah Karang Sambung bukan batuan biasa atau batuan hasil lemparan material pegunungan. Batu-batuan yang tersedia di sejumlah tempat (areal pesawahan, tepi jalan, bebukitan, tepi sungai) merupakan batuan hasil pertemuan samudra dan benua yang diprediksi para geolog sekitar 65-120 juta tahun lalu.

Sejumlah peneliti mengatakan bahwa kawasan Karang Sambung sebagai “kotak hitam (black box) bagi segala proses alam semesta”[1]. Sebagian geolog lain mengatakan lokasi ini seperti ”Yellowstone National Park”-nya Indonesia”[2] serta ada pula yang mengungkapkan sebagai “Text Book Geologi[3]




Mengapa para peneliti tersebut mengatakan demikian? Mengutip penjelasan dalam sebuah laman sbb: 

Selasa, 19 Februari 2013

KERKHOFF DI DESA SEMANDING, GOMBONG





Beberapa ratus meter dari benteng Van der Wick ke arah Timur ada areal pemakaman Belanda (Kerkhoff) yang saat ini sudah bercampur dengan makam penduduk. Areal pekuburan Belanda ini tidak jauh dari lingkungan rumah penduduk. Namun areal pekuburan ini tidak bisa disebut secara resmi Kerkhoff karena telah bercampur dengan lokasi pekuburan warga masyarakat di sekitarnya.



Penjaga makam saat ini dipercayakan pada seorang kakek berusia 78 tahun bernama Karmin. Lelaki renta itu menemani penulis sekedar berkeliling lokasi pekuburan dan memberikan informasi yang dia tahu mengenai keberadaan kuburan Belanda tersebut.

Kondisi areal pemakaman Belanda ini sungguh memprihatikan dan tidak terawat. Semak-semak tinggi menutupi sejumlah lokasi pekuburan Belanda. Banyak situs penting hilang dan rusak karena faktor kelalaian dan kejahatan. Faktor kelalaian adalah kurangnya pihak-pihak terkait yang bertanggung jawab dengan keberadaan makam tersebut dimana ada sejumlah makam yang jatuh ke sungai karena tergerus abrasi air sungai. Sementara faktor kejahatan adalah pencurian situs makam al., patung-patung dan batu-batuan tertentu.





Melihat eksistensi Kerkhoff yang berkaitan dengan keberadaan Benteng Van der Wijk dan satu-satunya di wilayah Gombong, Kebumen maka sudah selayaknya pemerintah daerah dan pihak-pihak terkait dapat melakukan pengelolaan Kerkhoff menjadi bagian situs budaya penting yang dilindungi.

Senin, 18 Februari 2013

BENTENG VAN DER WIJK: SAKSI BISU SEBUAH SEJARAH



Benteng Van Der Wijck adalah benteng pertahanan Hindia-Belanda yang dibangun pada abad ke 18. Benteng seluas 3606,625 m2 dan tinggi 9,67 m ini terletak di Gombong, sekitar 21 km dari kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, atau 100 km dari Candi Borobudur, Magelang.

Berbeda dengan pemahaman umum mengenai keberadaan Benteng Van der Wick yang dianggap sebagai benteng pertahanan, saya mendapatkan informasi bahwa keberadaan benteng yang didirikan tahun 1817 (menurut Pak Narto) atau 1818 (menurut tulisan di benteng) dahulunya adalah benteng tempat menaruh persediaan pangan untuk kebutuhan ekonomi dan perdagangan[1].

Tidak ada yang tahu siapa yang mendirikan benteng ini. Nama “Van der Wick” adalah nama yang disematkan setelah paska kemerdekaan dengan merujuk bahwa pernah salah satu kapten Belanda bernama Van der Wick meminta namanya disematkan di benteng tersebut setelah berhasil mengalahkan perlawanan Pangeran Diponegoro pada tahun 1830. Namun beliau merunut lebih jauh bahwa nama yang pernah disandang benteng tersebut dihubungkan dengan nama David Cochius (1787-1876), seorang Jenderal yang bertugas di daerah barat Bagelen yang namanya juga diabadikan menjadi nama Vort (benteng) Generaal Cochius.



Benteng ini pernah jatuh ke tangan Jepang dan ketika Jepang berhasil ditundukkan Belanda, maka keberadaan benteng ini dijadikan sekolah KNIL. Pada tahun 1940-an Pak Harto (mantan Presiden RI ke-2) pernah bersekolah di benteng ini.[2]

PAK NARTO, SAKSI SEJARAH PERTEMPURAN KEMIT




Siang itu udara cukup panas di kota Gombong. Saya sedang menelusuri tokoh dan saksi sejarah revolusi fisik antara Indonesia dengan Belanda di wilayah Gombong, Kebumen. Sampailah saya di rumah Bpk Narto yang terletak di Gang Sindoro III Nomor 2 Gombong. HR Soenarto Danusumarto, nama aslinya, saat ini masih menjabat ketua Legiun Veteran Republik Indoneisa (LVRI) Cabang Kebumen sekaligus Koordinator LVRI Se-Kedu. Beliau adalah saksi dan pelaku sejarah pertempuran Kemit yang diabadikan dengan keberadaan Monumen Kemit di dua tempat. Satu tempat di  tepi jalan Karanganyar-Gombong dan satunya di Jembatan Karanganyar[1]

Saya saya dan istri bertandang ke rumahnya, nampak ada beberapa orang menemui beliau. Saat itu ada seorang wartawati dari Trans 7 dalam rangka program siaran “Tau Gak Sih?” sudah mendahului saya mewawancarai pak Narto. Saya langsung bergabung dalam pembicaraan diantara mereka sebelum wawancara resmi dan penyutingan dilaksanakan.

Waktu beberapa puluh menit saya pergunakan untuk mencari tahu seputar aktivitas Pak Narto semasa perjuangan dahulu dan beberapa informasi penting seputar tempat-tempat bersejarah yang tidak jauh dari kediaman Pak Narto yaitu Benteng Van der Wick (baca: Van der Weigh).

Pria berusia 86 ini masih terlihat gagah dan berwibawa, khususnya saat menggunakan seragam veteran. Sambil menunjukkan lencana Bintang Gerilya, beliau mengatakan bahwa dirinya berhak dimakamkan di Makam Pahlawan Kalibata, namun dirinya lebih memilih dimakamkan di Gombong apabila kemudian hari kelak Tuhan memanggilnya. Pernyataan Pak Narto menunjukkan bahwa beliau memang bukan orang sembarangan dalam rangkaian sejarah kemerdekaan. Beliau adalah salah satu aset Gombong dan Kebumen sebagai pelaku sejarah perjuangan kemerdekaan.

Di ruang tamunya terpampang banyak foto, al., berjabat tangan bersama Presiden Soeharto, berjabat tangan bersama Presiden Soesilo Bambang Yudoyono, lukisan hasil pemberian Martha Tilar (pemilik Martha Tilaar Group (MTG), sebuah grup usaha industri jamu dan kosmetika dengan produk merek dagang Sariayu Martha Tilaar)[2]. Ibu Martha Tilar saat ini sedang berencana membangun museum di rumah peninggalan orang tuanya tersebut[3].

Saya diajak melihat-lihat ruang tamu yang berhiaskan foto dan tombak-tombak peninggalan leluhur sampai ke belakang dimana di sana-sini dipenuhi foto dan buku-buku. Saat saya berkata, “maaf lho mbah masuk ke dalam...” dia hanya berujar, “tidak apa. Ini rumah kalian juga”. Sebuah pernyataan yang menyiratkan bahwa rumah kediaman Pak Narto merupakan sebuah museum hidup yang dapat dikunjungi dan diakses siapapun.

Sebelum di wawancarai dan disyuting, saya sempat mendengar pernyataan kontroversial Pak Narto terkait keberadaan Jepang di Indonesia. Beliau berkata, “Kita harus bersyukur Jepang ada di Indonesia. Jika tidak ada Jepang, kita mungkin akan tetap terjajah dan tidak merdeka!”. Sontak saya terkaget-kaget karena sampai hari ini saya tetap memegang teguh catatan sejarah bahwa kedatangan Jepang lebih buruk daripada Belanda karena 350 tahun Belanda memerintah dan berkuasa di Indonesia, sekalipun menjajah dan merugikan, mereka membangun infrastruktur pendidikan dan pembangunan gedung-gedung penting yang selama ini dapat kita saksikan kemegahan dan kelanggengan fungsinya di zaman modern. Sementara Jepang yang hanya memerintah seumur jagung yaitu 3,5 tahun telah melakukan kerusakan hebat dan pembunuhan luar biasa atas rakyat Indonesia. Kelaparan terjadi dimana-mana dan bangsa Indonesia mengalami masa pahit dengan memakan gaplek dan memakai pakaian karung goni.

Ketika saya konfrontir dengan data-data yang saya ketahui sebagaimana saya jelaskan di atas, beliau menjawab demikian, “Memang jika kita hanya melihat dari sudut pandang negatifnya, Jepang memang telah mendatangkan kerusakan. Namun jika kita pandang dari sudut pandang positip, justru melalui Jepanglah kita belajar berperang dan berani melawan tentara Belanda”. Saya manggut-manggut sejenak berusaha untuk mencerna dan mengerti.

Beliau melanjutkan, “di bawah pemerintahan Jepang, orang Indonesia dilatih berperang dan menyanyikan lagu-lagu yang menimbulkan gelora perlawanan terhadap Belanda. Bukan hanya itu, setiap lulusan militer Jepang dalam tempo 2 bulan sudah menjadi perwira terlatih dalam medan tempur”. Beliau menyebut sejumlah nama dan yang saya ingat hanyalah dua tokoh yaitu Jendral Sudirman yang berlatar belakang guru dan Jenderal Sarbini yang namanya diabadikan menjadi nama salah satu jalan di Kebumen karena beliau adalah warga Kebumen.

Dengan bekal pelatihan tempur oleh Jepang, bangsa Indonesia memiliki kemampuan untuk menghadapi Belanda kelak. Khususnya dengan didirikannya kesatuan Tentara Pelajar (PETA) yang dikemudian hari akan menjadi pasukan-pasukan perlawanan bersenjata yang ditakuti Belanda.

Percakapan tersebut membuat saya merenungkan satu hal, bahwasanya kita harus memandang sebuah peristiwa dengan obyektif dan menyeluruh. Ada aspek positip dan negatif dibalik semua peristiwa yang terjadi dalam kehidupan. Jika kita hanya melihat aspek negatifnya, maka kita akan selalu menjadi orang yang berkeluh kesah dan menyerah pada takdir dan keadaan. Namun jika kita melihat dari aspek positipnya, maka kita akan selalu menjadi orang yang dapat melihat peluang dan kesempatan dibalik penderitaan dan kesulitan hidup.

Dari percakapan dengan Pak Narto, saya pun mendapatkan informasi mengenai dua tempat bersejarah di wilayah Gombong tidak jauh dari rumah beliau yaitu Benteng Van Der Wijk (baca: Van der Weigh) dan Kerkkoof (artinya Taman Gereja namun kemudian lebih diartikan pemakaman warga Belanda).

Kamis, 14 Februari 2013

MONUMEN KEMIT DAN SANG PERANCANG


Di wilayah antara Karanganyar dan Gombong berdiri sebuah monumen perjuangan mengenang peristiwa pertempuran Kemit. Di wilayah Kemit pernah terjadi pertempuran sengit antara pasukan republik, tentara pelajar dan pasukan Belanda.

Pertempuran terjadi sebagai akibat pelanggaran Belanda terhadap hasil Perundingan Linggarjati. Perundingan Linggarjati atau kadang juga disebut Perundingan Linggajati adalah suatu perundingan antara Indonesia dan Belanda di Linggarjati, Jawa Barat yang menghasilkan persetujuan mengenai status kemerdekaan Indonesia. Hasil perundingan ini ditandatangani di Istana Merdeka Jakarta pada 15 November 1946 dan diratifikasi kedua negara pada 25 Maret 1947[1] .

Pelaksanaan hasil perundingan ini tidak berjalan mulus. Pada tanggal 20 Juli 1947, Gubernur Jendral H.J. van Mook akhirnya menyatakan bahwa Belanda tidak terikat lagi dengan perjanjian ini, dan pada tanggal 21 Juli 1947, meletuslah Agresi Militer Belanda I. Hal ini merupakan akibat dari perbedaan penafsiran antara Indonesia dan Belanda [2].

Latar belakang Agresi Militer Belanda I adalah, Pada tanggal 15 Juli 1947, van Mook mengeluarkan ultimatum supaya RI menarik mundur pasukan sejauh 10 km. dari garis demarkasi. Tentu pimpinan RI menolak permintaan Belanda ini. Tujuan utama agresi Belanda adalah merebut daerah-daerah perkebunan yang kaya dan daerah yang memiliki sumber daya alam, terutama minyak. Namun sebagai kedok untuk dunia internasional, Belanda menamakan agresi militer ini sebagai Aksi Polisionil, dan menyatakan tindakan ini sebagai urusan dalam negeri. Letnan Gubernur Jenderal Belanda, Dr. H.J. van Mook menyampaikan pidato radio di mana dia menyatakan, bahwa Belanda tidak lagi terikat dengan Persetujuan Linggajati. Pada saat itu jumlah tentara Belanda telah mencapai lebih dari 100.000 orang, dengan persenjataan yang modern, termasuk persenjataan berat yang dihibahkan oleh tentara Inggris dan tentara Australia[3] .

Fokus serangan tentara Belanda di tiga tempat, yaitu Sumatera Timur, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Di Sumatera Timur, sasaran mereka adalah daerah perkebunan tembakau, di Jawa Tengah mereka menguasai seluruh pantai utara, dan di Jawa Timur, sasaran utamanya adalah wilayah di mana terdapat perkebunan tebu dan pabrik-pabrik gula[4] .

Ekspansi Belanda saat Agresi I mencapai Gombong dan menetapkan Kali Kemit sebagai Garis Demarkasi/Garis Status Quo[5]. Agresi Belanda I ditengahi melalui Perjanjian Renville pada tanggal 17 Januari 1948 namun beberapa bulan kemudian Belanda melakukan pelanggaran hingga pada 18 Desember 1948 Belanda melakukan Agrresi Militer 2 di Yogyakarta dan wilayah sekitarnya termasuk Gombong.

Pada hari Minggu pagi – pagi benar pukul 05.30 Wib tanggal 19 Desember 1948 Komandan Kompi III Batalyon III Brigade X (Batalyon Sroehardoyo) yang berkedudukan di Nampudadi dan Kepala Staf Kompi III Serma Koedoes mendengar ledakan Granat dari arah Kemit. Suara yang sama terdengar pula oleh Kapten Soemrahadi pimpinan sementara Kompi III karena Komandan Kompi III Kapten Radjiman sedang ke Purworejo untuk menengok keluarganya yang sakit. Ledakan granat itu tidak diragukan lagi setelah adanya laporan dari Kopral Soeroyo anggota regu Combat pimpinan Serma Soekidi yang bertugas di dalam kota Gombong, bahwa ledakan tersebut merupakan isyarat bahwa Belanda melaksanakan rencananya “door stoot naar Yogyakarta“. Hal itu menjadi lebih meyakinkan dengan adanya siaran RRI Yogyakarta secara berulang – ulang[6].

Ledakan tersebut memakan korban tujuh Polisi Keamanan. Ketujuh Polisi Keamanan yang menjalankan tugas istimewa menjaga garis Demarkasi/Status Quo Kemit ini gugur pada tanggal 19 Desember 1948 pada pukul 05.00 Wib saat Belanda memulai aksi militernya (Agresi Militer II) dengan terlebih dahulu menghabisi mereka yang pada saat itu menghuni rumah Bapak Prawiro Sumarto, timur pasar Kemit sebagai Pos PK pihak RI. Makam tujuh Pahlawan tersebut sebelumnya terletak di lokasi yang tidak layak (comberan), kemudian atas swadaya masyarakat Kemit, dipindahkan ke pemakaman yang layak di desa Grenggeng diprakarsai oleh Bp. Taufik dan Bp. Dwidjomartono[7].

Peristiwa tersebut diabadikan dengan didirikannya monumen Kemit oleh pemerintahan Kabupaten Kebumen. Siapakah tokoh pembuat monumen Kemit? Mungkin tidak banyak generasi muda yang mengetahuinya. Beliau bernama Tan Giok Twan atau lebih dikenal dengan nama Teguh Twan. Beliau saat ini tinggal di Jalan Pemuda 35 Kebumen. Kisah kehidupan beliau pernah dimuat secara berseri oleh Suara Merdeka[8]





Monumen Kemit

Teguh Twan adalah pria kelahiran 1939. Pekerjaan beliau sehari-hari adalah pelukis dan pemahat. Beliau lulus Akademi Seni Rupa Indonesia tahun 1960.

Pada tahun 1973 beliau mendapatkan tugas dari Bupati Kebumen untuk membuat sebuah monumen perjuangan dan pengerjaan di mulai pada tahun 1974 dan diselesaikan pada tahun 1975. Biaya pengerjaan monumen tersebut diperkirakan sekitar 5-7 juta.


Tugu Lawet

Pada tahun yang sama yaitu 1975, rekan beliau sesama pemahat bernama Suko mengerjakan Tugu Lawet. Ada sedikit keluh kesah dan kerisauan beliau mengenai pewarnaan Tugu Lawet saat penulis berkunjung dan mewawancarainya. Beliau berkata, “Jika hendak mencat Tugu Lawet seharusnya menggunakan warna yang monumental, jangan beraneka warna seperti itu. Apalagi pencari burung waletnya menggunakan celana yang di warna-warni”. Sebuah kritik yang selayaknya dipertimbangkan oleh instansi terkait saat melakukan perawatan dan pengecatan ulang sebuah benda monumental agar tidak mengurangi nilai filosofi dan karya seni menjadi sebuah tertawaan bagi yang paham nilai filosofi dan karya seni.


Teguh Twan Saat Mengerjakan Relief (1975)

DARI KALI RONG SAMPAI CLERENS:



MENELUSURI JEJAK-JEJAK SAMAR ASAL USUL
DESA KLIRONG DAN DESA GEBANGSARI


Tidak mudah mengetahui sejarah bermulanya sebuah desa khususnya desa Gebangsari dan desa Klirong yang menjadi wilayah Kecamatan Klirong dan Kabupaten Kebumen. Sumber informasi yang diperoleh masih begitu samar dan kontradiktif satu sama lain. Ketidakjelasan ini dikarenakan tidak adanya sumber-sumber tertulis (babad, tarikh) yang dapat dijadikan sumber rujukan ilmiah mengenai asal usul keberadaan sebuah desa. Satu-satunya sumber yang dimiliki adalah tradisi lisan (oral tradition).

Apakah tradisi lisan itu? Prof. Kuntowijoyo mengutip pandangan Jan Vansina dalam bukunya Once Upon a Time: Oral Traditions as History in Africa sbb: “Oral testimony transmitted verbally from one generation to the next one or more”[1] (Tradisi Lisan diteruskan secara mulut ke mulut dari satu generasi ke generasi berikutnya dan seterusnya demikian). Selanjutnya Prof. Kuntowijoyo menjelaskan, “Dalam tradisi lisan tidak termasuk kesaksian mata yang merupakan data lisan. Juga di sini tidak termasuk rerasan masyarakat yang meskipun lisan tetapi tidak ditularkan dari satu generasi ke generasi yang lain. Tradisi lisan dengan demikian terbatas di dalam kebudayaan lisan dari masyarakat yang belum mengenal tulisan”[2]

Saya menemui dua orang yang saya anggap memiliki sejumlah informasi mengenai asal usul Desa Gebangsari dan Desa Klirong yaitu Bpk Sri Darmaji (Kepala Desa Klirong) dan Bpk Parluji (Kepala Desa Gebangsari). Kedua orang ini menjadi nara sumber yang cukup mengetahui tradisi lisan asal usul kedua desa tersebut.

Bapak Sri Darmaji menjelaskan asal usul desa Gebangsari dan Klirong sbb: Bermula dari kisah seorang pangeran yang berasal dari wilayah Mataram (tidak jelas raja Mataram mana yang dimaksudkan) yang bernama Prabu Jaka hendak “bebedak” (berburu) dan sampailah di sebuah hutan di wilayah yang sekarang merupakan wilayah kecamatan Klirong. Nama desa “Bobang” diyakini berasal dari nama “Kebo Abang” yang dijumpai oleh Prabu Jaka. Sang pangeran ternyata tertarik untuk tinggal di di wilayah tersebut sehingga berniat mendirikan kerajaan baru di wilayah tersebut dengan sejumlah prajurit yang mengiringinya.

Namun sang raja yang sudah uzur usianya menghendaki putranya kembali pulang sehingga diutuslah adik perempuan sang pangeran. Namun sang adik pangeran tidak datang dengan status dirinya yang adalah adiknya melainkan datang dengan menyamar menjadi seorang penari. Namun ketika sang pangeran melihat adiknya yang menyamar tersebut, dia menganggap adiknya adalah mata-mata dari Mataram sehingga dia memutuskan untuk membunuhnya. Tidak lama kemudian sang pangeran menerima kabar bahwa orang yang dibunuhnya adalah adiknya sendiri. Hati sang pangeran menjadi masygul sehingga dia memutuskan untuk membunuh dirinya sendiri.

Demi didengar kematian sang pangeran dan adik sang pangeran, sang raja memutuskan untuk mengambil kedua jenasah anaknya sekalipun sudah dikebumikan. Menurut kisah yang beredar, sang raja mengutus para prajuritnya untuk mengambil jenasah dari dalam bumi dengan cara berjalan menembus bumi dari Mataram sampai ke wilayah yang sekarang berada di wilayah Kecamatan Klirong. Pasukan dibagi dua antara pasukan di wilayah Mataram dan pasukan yang berada di wilayah yang sekarang disebut Kecamatan Klirong. Nama Klirong sendiri berasal dari kata “Kali” (sungai) dan “Rong” (lubang di bawah tanah) yang menunjukkan aktifitas para prajurit Mataram saat berjalan dan menembus bumi membuat “urung-urung” (lubang) dengan kesaktian mereka saat mengambil kedua jenasah putra raja tersebut.

Para pasukan yang berhasil membawa jenazah tersebut kembali ke Mataram. Dalam setiap perjalanan mereka menamai masing-masing lokasi yang mereka singgahi sesuai dengan peristiwa yang mereka alami. Sebagai contoh desa Klampis (masuk wilayah Kecamatan Klirong) berasal dari kata “Ambegan Kempis-kempis” (nafas megap-megap). Istilah ini menunjuk aktifitas para prajurit mataram yang kelelahan saat menembus bumi dan saat mereka beristirahat maka mereka menamai desa tersebut dengan “Klampis”. desa Ambal di wilayah Kutowinangun diduga berasal dari istilah “Ambal-ambalan” (bertepuk tangan bersahutan). Istilah ini dihubungkan dengan aktifitas tepuk sorak para prajurit Mataram saat mereka berhasil membawa jenasah kedua putra raja tersebut[3].

Dimanakah letak makam kedua putra raja yang dikebumikan tersebut? Menurut Bapak Sri Darmaji dan Bapak Parluji makam tersebut berada di desa Gebangsari dimana saat ini menjadi lokasi kandang sapi kelompok tani milik warga. Ketika saya mengunjungi tempat tersebut, situs tersebut telah dipindahkan lokasinya beberapa meter dari lokasi yang sekarang di tempati sejumlah hewan ternak sapi. Menurut keterangan Bapak Parluji, saat beberapa tahun silam makam tersebut dipindahkan, tidak berisikan apapun hanya ada terdapat “paesan” (cungkup) kuno yang sekarang dipasangkan kembali sekalipun dengan bentuk makam modern[4].




Lokasi Makam Prabu Jaka



Lokasi Lama Pekuburan Prabu Jaka

Apakah kisah-kisah di atas dapat dipercaya dan memiliki nilai faktual historis? Sulit menjawab soal faktualitas dan historitas di atas. Kisah setengah dongeng tersebut tidak bisa begitu saja dipercaya namun tidak bisa begitu saja diabaikan.

Persoalan fenomena supranatural (menembus bumi) bukan persoalan mustahil di tanah Jawa dengan latar belakang zaman raja-raja. Namun alur logika kisah di atas cukup diragukan kebenarannya. Pertama, mengapa sang raja Mataram harus mengirim para pasukannya dengan melalui bawah tanah jika wilayah yang akan didatangi bukanlah sebuah wilayah musuh sehingga harus mengambil jenasah kedua putra dan putrinya dengan cara demikian? Mengapa tidak melalui jalur darat dengan diiringi panji-panji kebesaran? Kedua, bisa jadi orang-orang tua zaman dahulu membuat kisah atau cerita dengan metode “gothak gathuk mathuk” dengan membuat persamaan bunyi dan artinya menjadi sebuah kisah seperti istilah “Klirong” yang berasal dari “Kali” dan “Rong”. Padahal dalam salah satu tulisan yang saya baca, nama Klirong dihubungkan dengan nama seorang prajurit Belanda asal Prancis bernama Clerens yang tertembak saat perang Pangeran Diponegoro. Karena lidah Jawa kurang fasih melafalkan nama asing maka muncullah nama “Klirong”[5]. Sampai di sini kita melihat beberapa data dan informasi yang bertabrakan dan tidak sinkron sehingga membuat kesamaran akan faktualitas dan historitas desa Gebangsari dan desa Klirong.

Sebagaimana saya jelaskan di atas, kita tidak bisa begitu saja mengabaikan kisah-kisah di atas mengingat di wilayah desa Gebangsari sendiri terdapat sejumlah situs penting selain situs makam Prabu Jaka yang sudah tidak ada isi jasadnya. Situs penting lainnya yang masih terkait secara tidak langsung dengan Prabu Jaka adalah makam Adipati Anden di wilayah desa Bobang dan makam Maduretno dan Maduseno.

Siapakah Adipati Anden itu? Bpk Sri Darmaji memberikan keterangan, ada dua penjelasan mengenai asal usul Adipati Anden. Pertama, beliau keturunan Sultan Mataram dari garwo ampilan. Kedua, beliau adalah anak dari imam mesjid di Mataram.



Lokasi Makam Adipati Anden

Dalam perjalanan waktu, Adipati Anden kelak akan menurunkan sejumlah keturunan yang kelak akan menjadi “Glondong” (kepala para lurah). Di wilayah Klirong. Menurut Bpk Sri Darmaji yang masih keturunan “Glondong” Klirong, Glondong pertama di pimpin oleh Kartodikromo dan Glondong terakhir adalah Sayoto. Glondong pertama sampai ketiga bertempat tinggal di wilayah desa Tapen sekarang ini dan untuk Glondong keempat sampai terakhir berpindah di kediaman yang sekarang ditinggali oleh keluarga Bpk Sri Darmaji. Penulis (Teguh Hindarto) masih ada hubungan keluarga dengan Bpk Sri Darmaji tersebut.