Senin, 25 Februari 2013

PESONA SITUS GEOLOGI KARANG SAMBUNG



Kebumen memiliki sebuah lokasi penting bagi studi Geologi yaitu Karang Sambung. Terletak kurang lebih 20 km dari kota Kebumen, sepanjang jalan menuju wilayah Karang Sambung, kita akan diberi sajian pesona alam yang indah. Bukan semata-mata pemandangan bentangan sawah atau rindang pepohonan pinus ketika perjalanan semakin meninggi ke utara, namun pesona khusus berupa batu-batuan alam yang besar dan membentang baik di sekitar jalanan yang dilalui atau di kelokan sungai di sebelah kiri atau kanan jalanan serta bebukitan.

Batu-batuan yang berada di wilayah Karang Sambung bukan batuan biasa atau batuan hasil lemparan material pegunungan. Batu-batuan yang tersedia di sejumlah tempat (areal pesawahan, tepi jalan, bebukitan, tepi sungai) merupakan batuan hasil pertemuan samudra dan benua yang diprediksi para geolog sekitar 65-120 juta tahun lalu.

Sejumlah peneliti mengatakan bahwa kawasan Karang Sambung sebagai “kotak hitam (black box) bagi segala proses alam semesta”[1]. Sebagian geolog lain mengatakan lokasi ini seperti ”Yellowstone National Park”-nya Indonesia”[2] serta ada pula yang mengungkapkan sebagai “Text Book Geologi[3]




Mengapa para peneliti tersebut mengatakan demikian? Mengutip penjelasan dalam sebuah laman sbb: 

Selasa, 19 Februari 2013

KERKHOFF DI DESA SEMANDING, GOMBONG





Beberapa ratus meter dari benteng Van der Wick ke arah Timur ada areal pemakaman Belanda (Kerkhoff) yang saat ini sudah bercampur dengan makam penduduk. Areal pekuburan Belanda ini tidak jauh dari lingkungan rumah penduduk. Namun areal pekuburan ini tidak bisa disebut secara resmi Kerkhoff karena telah bercampur dengan lokasi pekuburan warga masyarakat di sekitarnya.



Penjaga makam saat ini dipercayakan pada seorang kakek berusia 78 tahun bernama Karmin. Lelaki renta itu menemani penulis sekedar berkeliling lokasi pekuburan dan memberikan informasi yang dia tahu mengenai keberadaan kuburan Belanda tersebut.

Kondisi areal pemakaman Belanda ini sungguh memprihatikan dan tidak terawat. Semak-semak tinggi menutupi sejumlah lokasi pekuburan Belanda. Banyak situs penting hilang dan rusak karena faktor kelalaian dan kejahatan. Faktor kelalaian adalah kurangnya pihak-pihak terkait yang bertanggung jawab dengan keberadaan makam tersebut dimana ada sejumlah makam yang jatuh ke sungai karena tergerus abrasi air sungai. Sementara faktor kejahatan adalah pencurian situs makam al., patung-patung dan batu-batuan tertentu.





Melihat eksistensi Kerkhoff yang berkaitan dengan keberadaan Benteng Van der Wijk dan satu-satunya di wilayah Gombong, Kebumen maka sudah selayaknya pemerintah daerah dan pihak-pihak terkait dapat melakukan pengelolaan Kerkhoff menjadi bagian situs budaya penting yang dilindungi.

Senin, 18 Februari 2013

BENTENG VAN DER WIJK: SAKSI BISU SEBUAH SEJARAH



Benteng Van Der Wijck adalah benteng pertahanan Hindia-Belanda yang dibangun pada abad ke 18. Benteng seluas 3606,625 m2 dan tinggi 9,67 m ini terletak di Gombong, sekitar 21 km dari kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, atau 100 km dari Candi Borobudur, Magelang.

Berbeda dengan pemahaman umum mengenai keberadaan Benteng Van der Wick yang dianggap sebagai benteng pertahanan, saya mendapatkan informasi bahwa keberadaan benteng yang didirikan tahun 1817 (menurut Pak Narto) atau 1818 (menurut tulisan di benteng) dahulunya adalah benteng tempat menaruh persediaan pangan untuk kebutuhan ekonomi dan perdagangan[1].

Tidak ada yang tahu siapa yang mendirikan benteng ini. Nama “Van der Wick” adalah nama yang disematkan setelah paska kemerdekaan dengan merujuk bahwa pernah salah satu kapten Belanda bernama Van der Wick meminta namanya disematkan di benteng tersebut setelah berhasil mengalahkan perlawanan Pangeran Diponegoro pada tahun 1830. Namun beliau merunut lebih jauh bahwa nama yang pernah disandang benteng tersebut dihubungkan dengan nama David Cochius (1787-1876), seorang Jenderal yang bertugas di daerah barat Bagelen yang namanya juga diabadikan menjadi nama Vort (benteng) Generaal Cochius.



Benteng ini pernah jatuh ke tangan Jepang dan ketika Jepang berhasil ditundukkan Belanda, maka keberadaan benteng ini dijadikan sekolah KNIL. Pada tahun 1940-an Pak Harto (mantan Presiden RI ke-2) pernah bersekolah di benteng ini.[2]

PAK NARTO, SAKSI SEJARAH PERTEMPURAN KEMIT




Siang itu udara cukup panas di kota Gombong. Saya sedang menelusuri tokoh dan saksi sejarah revolusi fisik antara Indonesia dengan Belanda di wilayah Gombong, Kebumen. Sampailah saya di rumah Bpk Narto yang terletak di Gang Sindoro III Nomor 2 Gombong. HR Soenarto Danusumarto, nama aslinya, saat ini masih menjabat ketua Legiun Veteran Republik Indoneisa (LVRI) Cabang Kebumen sekaligus Koordinator LVRI Se-Kedu. Beliau adalah saksi dan pelaku sejarah pertempuran Kemit yang diabadikan dengan keberadaan Monumen Kemit di dua tempat. Satu tempat di  tepi jalan Karanganyar-Gombong dan satunya di Jembatan Karanganyar[1]

Saya saya dan istri bertandang ke rumahnya, nampak ada beberapa orang menemui beliau. Saat itu ada seorang wartawati dari Trans 7 dalam rangka program siaran “Tau Gak Sih?” sudah mendahului saya mewawancarai pak Narto. Saya langsung bergabung dalam pembicaraan diantara mereka sebelum wawancara resmi dan penyutingan dilaksanakan.

Waktu beberapa puluh menit saya pergunakan untuk mencari tahu seputar aktivitas Pak Narto semasa perjuangan dahulu dan beberapa informasi penting seputar tempat-tempat bersejarah yang tidak jauh dari kediaman Pak Narto yaitu Benteng Van der Wick (baca: Van der Weigh).

Pria berusia 86 ini masih terlihat gagah dan berwibawa, khususnya saat menggunakan seragam veteran. Sambil menunjukkan lencana Bintang Gerilya, beliau mengatakan bahwa dirinya berhak dimakamkan di Makam Pahlawan Kalibata, namun dirinya lebih memilih dimakamkan di Gombong apabila kemudian hari kelak Tuhan memanggilnya. Pernyataan Pak Narto menunjukkan bahwa beliau memang bukan orang sembarangan dalam rangkaian sejarah kemerdekaan. Beliau adalah salah satu aset Gombong dan Kebumen sebagai pelaku sejarah perjuangan kemerdekaan.

Di ruang tamunya terpampang banyak foto, al., berjabat tangan bersama Presiden Soeharto, berjabat tangan bersama Presiden Soesilo Bambang Yudoyono, lukisan hasil pemberian Martha Tilar (pemilik Martha Tilaar Group (MTG), sebuah grup usaha industri jamu dan kosmetika dengan produk merek dagang Sariayu Martha Tilaar)[2]. Ibu Martha Tilar saat ini sedang berencana membangun museum di rumah peninggalan orang tuanya tersebut[3].

Saya diajak melihat-lihat ruang tamu yang berhiaskan foto dan tombak-tombak peninggalan leluhur sampai ke belakang dimana di sana-sini dipenuhi foto dan buku-buku. Saat saya berkata, “maaf lho mbah masuk ke dalam...” dia hanya berujar, “tidak apa. Ini rumah kalian juga”. Sebuah pernyataan yang menyiratkan bahwa rumah kediaman Pak Narto merupakan sebuah museum hidup yang dapat dikunjungi dan diakses siapapun.

Sebelum di wawancarai dan disyuting, saya sempat mendengar pernyataan kontroversial Pak Narto terkait keberadaan Jepang di Indonesia. Beliau berkata, “Kita harus bersyukur Jepang ada di Indonesia. Jika tidak ada Jepang, kita mungkin akan tetap terjajah dan tidak merdeka!”. Sontak saya terkaget-kaget karena sampai hari ini saya tetap memegang teguh catatan sejarah bahwa kedatangan Jepang lebih buruk daripada Belanda karena 350 tahun Belanda memerintah dan berkuasa di Indonesia, sekalipun menjajah dan merugikan, mereka membangun infrastruktur pendidikan dan pembangunan gedung-gedung penting yang selama ini dapat kita saksikan kemegahan dan kelanggengan fungsinya di zaman modern. Sementara Jepang yang hanya memerintah seumur jagung yaitu 3,5 tahun telah melakukan kerusakan hebat dan pembunuhan luar biasa atas rakyat Indonesia. Kelaparan terjadi dimana-mana dan bangsa Indonesia mengalami masa pahit dengan memakan gaplek dan memakai pakaian karung goni.

Ketika saya konfrontir dengan data-data yang saya ketahui sebagaimana saya jelaskan di atas, beliau menjawab demikian, “Memang jika kita hanya melihat dari sudut pandang negatifnya, Jepang memang telah mendatangkan kerusakan. Namun jika kita pandang dari sudut pandang positip, justru melalui Jepanglah kita belajar berperang dan berani melawan tentara Belanda”. Saya manggut-manggut sejenak berusaha untuk mencerna dan mengerti.

Beliau melanjutkan, “di bawah pemerintahan Jepang, orang Indonesia dilatih berperang dan menyanyikan lagu-lagu yang menimbulkan gelora perlawanan terhadap Belanda. Bukan hanya itu, setiap lulusan militer Jepang dalam tempo 2 bulan sudah menjadi perwira terlatih dalam medan tempur”. Beliau menyebut sejumlah nama dan yang saya ingat hanyalah dua tokoh yaitu Jendral Sudirman yang berlatar belakang guru dan Jenderal Sarbini yang namanya diabadikan menjadi nama salah satu jalan di Kebumen karena beliau adalah warga Kebumen.

Dengan bekal pelatihan tempur oleh Jepang, bangsa Indonesia memiliki kemampuan untuk menghadapi Belanda kelak. Khususnya dengan didirikannya kesatuan Tentara Pelajar (PETA) yang dikemudian hari akan menjadi pasukan-pasukan perlawanan bersenjata yang ditakuti Belanda.

Percakapan tersebut membuat saya merenungkan satu hal, bahwasanya kita harus memandang sebuah peristiwa dengan obyektif dan menyeluruh. Ada aspek positip dan negatif dibalik semua peristiwa yang terjadi dalam kehidupan. Jika kita hanya melihat aspek negatifnya, maka kita akan selalu menjadi orang yang berkeluh kesah dan menyerah pada takdir dan keadaan. Namun jika kita melihat dari aspek positipnya, maka kita akan selalu menjadi orang yang dapat melihat peluang dan kesempatan dibalik penderitaan dan kesulitan hidup.

Dari percakapan dengan Pak Narto, saya pun mendapatkan informasi mengenai dua tempat bersejarah di wilayah Gombong tidak jauh dari rumah beliau yaitu Benteng Van Der Wijk (baca: Van der Weigh) dan Kerkkoof (artinya Taman Gereja namun kemudian lebih diartikan pemakaman warga Belanda).

Kamis, 14 Februari 2013

MONUMEN KEMIT DAN SANG PERANCANG


Di wilayah antara Karanganyar dan Gombong berdiri sebuah monumen perjuangan mengenang peristiwa pertempuran Kemit. Di wilayah Kemit pernah terjadi pertempuran sengit antara pasukan republik, tentara pelajar dan pasukan Belanda.

Pertempuran terjadi sebagai akibat pelanggaran Belanda terhadap hasil Perundingan Linggarjati. Perundingan Linggarjati atau kadang juga disebut Perundingan Linggajati adalah suatu perundingan antara Indonesia dan Belanda di Linggarjati, Jawa Barat yang menghasilkan persetujuan mengenai status kemerdekaan Indonesia. Hasil perundingan ini ditandatangani di Istana Merdeka Jakarta pada 15 November 1946 dan diratifikasi kedua negara pada 25 Maret 1947[1] .

Pelaksanaan hasil perundingan ini tidak berjalan mulus. Pada tanggal 20 Juli 1947, Gubernur Jendral H.J. van Mook akhirnya menyatakan bahwa Belanda tidak terikat lagi dengan perjanjian ini, dan pada tanggal 21 Juli 1947, meletuslah Agresi Militer Belanda I. Hal ini merupakan akibat dari perbedaan penafsiran antara Indonesia dan Belanda [2].

Latar belakang Agresi Militer Belanda I adalah, Pada tanggal 15 Juli 1947, van Mook mengeluarkan ultimatum supaya RI menarik mundur pasukan sejauh 10 km. dari garis demarkasi. Tentu pimpinan RI menolak permintaan Belanda ini. Tujuan utama agresi Belanda adalah merebut daerah-daerah perkebunan yang kaya dan daerah yang memiliki sumber daya alam, terutama minyak. Namun sebagai kedok untuk dunia internasional, Belanda menamakan agresi militer ini sebagai Aksi Polisionil, dan menyatakan tindakan ini sebagai urusan dalam negeri. Letnan Gubernur Jenderal Belanda, Dr. H.J. van Mook menyampaikan pidato radio di mana dia menyatakan, bahwa Belanda tidak lagi terikat dengan Persetujuan Linggajati. Pada saat itu jumlah tentara Belanda telah mencapai lebih dari 100.000 orang, dengan persenjataan yang modern, termasuk persenjataan berat yang dihibahkan oleh tentara Inggris dan tentara Australia[3] .

Fokus serangan tentara Belanda di tiga tempat, yaitu Sumatera Timur, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Di Sumatera Timur, sasaran mereka adalah daerah perkebunan tembakau, di Jawa Tengah mereka menguasai seluruh pantai utara, dan di Jawa Timur, sasaran utamanya adalah wilayah di mana terdapat perkebunan tebu dan pabrik-pabrik gula[4] .

Ekspansi Belanda saat Agresi I mencapai Gombong dan menetapkan Kali Kemit sebagai Garis Demarkasi/Garis Status Quo[5]. Agresi Belanda I ditengahi melalui Perjanjian Renville pada tanggal 17 Januari 1948 namun beberapa bulan kemudian Belanda melakukan pelanggaran hingga pada 18 Desember 1948 Belanda melakukan Agrresi Militer 2 di Yogyakarta dan wilayah sekitarnya termasuk Gombong.

Pada hari Minggu pagi – pagi benar pukul 05.30 Wib tanggal 19 Desember 1948 Komandan Kompi III Batalyon III Brigade X (Batalyon Sroehardoyo) yang berkedudukan di Nampudadi dan Kepala Staf Kompi III Serma Koedoes mendengar ledakan Granat dari arah Kemit. Suara yang sama terdengar pula oleh Kapten Soemrahadi pimpinan sementara Kompi III karena Komandan Kompi III Kapten Radjiman sedang ke Purworejo untuk menengok keluarganya yang sakit. Ledakan granat itu tidak diragukan lagi setelah adanya laporan dari Kopral Soeroyo anggota regu Combat pimpinan Serma Soekidi yang bertugas di dalam kota Gombong, bahwa ledakan tersebut merupakan isyarat bahwa Belanda melaksanakan rencananya “door stoot naar Yogyakarta“. Hal itu menjadi lebih meyakinkan dengan adanya siaran RRI Yogyakarta secara berulang – ulang[6].

Ledakan tersebut memakan korban tujuh Polisi Keamanan. Ketujuh Polisi Keamanan yang menjalankan tugas istimewa menjaga garis Demarkasi/Status Quo Kemit ini gugur pada tanggal 19 Desember 1948 pada pukul 05.00 Wib saat Belanda memulai aksi militernya (Agresi Militer II) dengan terlebih dahulu menghabisi mereka yang pada saat itu menghuni rumah Bapak Prawiro Sumarto, timur pasar Kemit sebagai Pos PK pihak RI. Makam tujuh Pahlawan tersebut sebelumnya terletak di lokasi yang tidak layak (comberan), kemudian atas swadaya masyarakat Kemit, dipindahkan ke pemakaman yang layak di desa Grenggeng diprakarsai oleh Bp. Taufik dan Bp. Dwidjomartono[7].

Peristiwa tersebut diabadikan dengan didirikannya monumen Kemit oleh pemerintahan Kabupaten Kebumen. Siapakah tokoh pembuat monumen Kemit? Mungkin tidak banyak generasi muda yang mengetahuinya. Beliau bernama Tan Giok Twan atau lebih dikenal dengan nama Teguh Twan. Beliau saat ini tinggal di Jalan Pemuda 35 Kebumen. Kisah kehidupan beliau pernah dimuat secara berseri oleh Suara Merdeka[8]





Monumen Kemit

Teguh Twan adalah pria kelahiran 1939. Pekerjaan beliau sehari-hari adalah pelukis dan pemahat. Beliau lulus Akademi Seni Rupa Indonesia tahun 1960.

Pada tahun 1973 beliau mendapatkan tugas dari Bupati Kebumen untuk membuat sebuah monumen perjuangan dan pengerjaan di mulai pada tahun 1974 dan diselesaikan pada tahun 1975. Biaya pengerjaan monumen tersebut diperkirakan sekitar 5-7 juta.


Tugu Lawet

Pada tahun yang sama yaitu 1975, rekan beliau sesama pemahat bernama Suko mengerjakan Tugu Lawet. Ada sedikit keluh kesah dan kerisauan beliau mengenai pewarnaan Tugu Lawet saat penulis berkunjung dan mewawancarainya. Beliau berkata, “Jika hendak mencat Tugu Lawet seharusnya menggunakan warna yang monumental, jangan beraneka warna seperti itu. Apalagi pencari burung waletnya menggunakan celana yang di warna-warni”. Sebuah kritik yang selayaknya dipertimbangkan oleh instansi terkait saat melakukan perawatan dan pengecatan ulang sebuah benda monumental agar tidak mengurangi nilai filosofi dan karya seni menjadi sebuah tertawaan bagi yang paham nilai filosofi dan karya seni.


Teguh Twan Saat Mengerjakan Relief (1975)

DARI KALI RONG SAMPAI CLERENS:



MENELUSURI JEJAK-JEJAK SAMAR ASAL USUL
DESA KLIRONG DAN DESA GEBANGSARI


Tidak mudah mengetahui sejarah bermulanya sebuah desa khususnya desa Gebangsari dan desa Klirong yang menjadi wilayah Kecamatan Klirong dan Kabupaten Kebumen. Sumber informasi yang diperoleh masih begitu samar dan kontradiktif satu sama lain. Ketidakjelasan ini dikarenakan tidak adanya sumber-sumber tertulis (babad, tarikh) yang dapat dijadikan sumber rujukan ilmiah mengenai asal usul keberadaan sebuah desa. Satu-satunya sumber yang dimiliki adalah tradisi lisan (oral tradition).

Apakah tradisi lisan itu? Prof. Kuntowijoyo mengutip pandangan Jan Vansina dalam bukunya Once Upon a Time: Oral Traditions as History in Africa sbb: “Oral testimony transmitted verbally from one generation to the next one or more”[1] (Tradisi Lisan diteruskan secara mulut ke mulut dari satu generasi ke generasi berikutnya dan seterusnya demikian). Selanjutnya Prof. Kuntowijoyo menjelaskan, “Dalam tradisi lisan tidak termasuk kesaksian mata yang merupakan data lisan. Juga di sini tidak termasuk rerasan masyarakat yang meskipun lisan tetapi tidak ditularkan dari satu generasi ke generasi yang lain. Tradisi lisan dengan demikian terbatas di dalam kebudayaan lisan dari masyarakat yang belum mengenal tulisan”[2]

Saya menemui dua orang yang saya anggap memiliki sejumlah informasi mengenai asal usul Desa Gebangsari dan Desa Klirong yaitu Bpk Sri Darmaji (Kepala Desa Klirong) dan Bpk Parluji (Kepala Desa Gebangsari). Kedua orang ini menjadi nara sumber yang cukup mengetahui tradisi lisan asal usul kedua desa tersebut.

Bapak Sri Darmaji menjelaskan asal usul desa Gebangsari dan Klirong sbb: Bermula dari kisah seorang pangeran yang berasal dari wilayah Mataram (tidak jelas raja Mataram mana yang dimaksudkan) yang bernama Prabu Jaka hendak “bebedak” (berburu) dan sampailah di sebuah hutan di wilayah yang sekarang merupakan wilayah kecamatan Klirong. Nama desa “Bobang” diyakini berasal dari nama “Kebo Abang” yang dijumpai oleh Prabu Jaka. Sang pangeran ternyata tertarik untuk tinggal di di wilayah tersebut sehingga berniat mendirikan kerajaan baru di wilayah tersebut dengan sejumlah prajurit yang mengiringinya.

Namun sang raja yang sudah uzur usianya menghendaki putranya kembali pulang sehingga diutuslah adik perempuan sang pangeran. Namun sang adik pangeran tidak datang dengan status dirinya yang adalah adiknya melainkan datang dengan menyamar menjadi seorang penari. Namun ketika sang pangeran melihat adiknya yang menyamar tersebut, dia menganggap adiknya adalah mata-mata dari Mataram sehingga dia memutuskan untuk membunuhnya. Tidak lama kemudian sang pangeran menerima kabar bahwa orang yang dibunuhnya adalah adiknya sendiri. Hati sang pangeran menjadi masygul sehingga dia memutuskan untuk membunuh dirinya sendiri.

Demi didengar kematian sang pangeran dan adik sang pangeran, sang raja memutuskan untuk mengambil kedua jenasah anaknya sekalipun sudah dikebumikan. Menurut kisah yang beredar, sang raja mengutus para prajuritnya untuk mengambil jenasah dari dalam bumi dengan cara berjalan menembus bumi dari Mataram sampai ke wilayah yang sekarang berada di wilayah Kecamatan Klirong. Pasukan dibagi dua antara pasukan di wilayah Mataram dan pasukan yang berada di wilayah yang sekarang disebut Kecamatan Klirong. Nama Klirong sendiri berasal dari kata “Kali” (sungai) dan “Rong” (lubang di bawah tanah) yang menunjukkan aktifitas para prajurit Mataram saat berjalan dan menembus bumi membuat “urung-urung” (lubang) dengan kesaktian mereka saat mengambil kedua jenasah putra raja tersebut.

Para pasukan yang berhasil membawa jenazah tersebut kembali ke Mataram. Dalam setiap perjalanan mereka menamai masing-masing lokasi yang mereka singgahi sesuai dengan peristiwa yang mereka alami. Sebagai contoh desa Klampis (masuk wilayah Kecamatan Klirong) berasal dari kata “Ambegan Kempis-kempis” (nafas megap-megap). Istilah ini menunjuk aktifitas para prajurit mataram yang kelelahan saat menembus bumi dan saat mereka beristirahat maka mereka menamai desa tersebut dengan “Klampis”. desa Ambal di wilayah Kutowinangun diduga berasal dari istilah “Ambal-ambalan” (bertepuk tangan bersahutan). Istilah ini dihubungkan dengan aktifitas tepuk sorak para prajurit Mataram saat mereka berhasil membawa jenasah kedua putra raja tersebut[3].

Dimanakah letak makam kedua putra raja yang dikebumikan tersebut? Menurut Bapak Sri Darmaji dan Bapak Parluji makam tersebut berada di desa Gebangsari dimana saat ini menjadi lokasi kandang sapi kelompok tani milik warga. Ketika saya mengunjungi tempat tersebut, situs tersebut telah dipindahkan lokasinya beberapa meter dari lokasi yang sekarang di tempati sejumlah hewan ternak sapi. Menurut keterangan Bapak Parluji, saat beberapa tahun silam makam tersebut dipindahkan, tidak berisikan apapun hanya ada terdapat “paesan” (cungkup) kuno yang sekarang dipasangkan kembali sekalipun dengan bentuk makam modern[4].




Lokasi Makam Prabu Jaka



Lokasi Lama Pekuburan Prabu Jaka

Apakah kisah-kisah di atas dapat dipercaya dan memiliki nilai faktual historis? Sulit menjawab soal faktualitas dan historitas di atas. Kisah setengah dongeng tersebut tidak bisa begitu saja dipercaya namun tidak bisa begitu saja diabaikan.

Persoalan fenomena supranatural (menembus bumi) bukan persoalan mustahil di tanah Jawa dengan latar belakang zaman raja-raja. Namun alur logika kisah di atas cukup diragukan kebenarannya. Pertama, mengapa sang raja Mataram harus mengirim para pasukannya dengan melalui bawah tanah jika wilayah yang akan didatangi bukanlah sebuah wilayah musuh sehingga harus mengambil jenasah kedua putra dan putrinya dengan cara demikian? Mengapa tidak melalui jalur darat dengan diiringi panji-panji kebesaran? Kedua, bisa jadi orang-orang tua zaman dahulu membuat kisah atau cerita dengan metode “gothak gathuk mathuk” dengan membuat persamaan bunyi dan artinya menjadi sebuah kisah seperti istilah “Klirong” yang berasal dari “Kali” dan “Rong”. Padahal dalam salah satu tulisan yang saya baca, nama Klirong dihubungkan dengan nama seorang prajurit Belanda asal Prancis bernama Clerens yang tertembak saat perang Pangeran Diponegoro. Karena lidah Jawa kurang fasih melafalkan nama asing maka muncullah nama “Klirong”[5]. Sampai di sini kita melihat beberapa data dan informasi yang bertabrakan dan tidak sinkron sehingga membuat kesamaran akan faktualitas dan historitas desa Gebangsari dan desa Klirong.

Sebagaimana saya jelaskan di atas, kita tidak bisa begitu saja mengabaikan kisah-kisah di atas mengingat di wilayah desa Gebangsari sendiri terdapat sejumlah situs penting selain situs makam Prabu Jaka yang sudah tidak ada isi jasadnya. Situs penting lainnya yang masih terkait secara tidak langsung dengan Prabu Jaka adalah makam Adipati Anden di wilayah desa Bobang dan makam Maduretno dan Maduseno.

Siapakah Adipati Anden itu? Bpk Sri Darmaji memberikan keterangan, ada dua penjelasan mengenai asal usul Adipati Anden. Pertama, beliau keturunan Sultan Mataram dari garwo ampilan. Kedua, beliau adalah anak dari imam mesjid di Mataram.



Lokasi Makam Adipati Anden

Dalam perjalanan waktu, Adipati Anden kelak akan menurunkan sejumlah keturunan yang kelak akan menjadi “Glondong” (kepala para lurah). Di wilayah Klirong. Menurut Bpk Sri Darmaji yang masih keturunan “Glondong” Klirong, Glondong pertama di pimpin oleh Kartodikromo dan Glondong terakhir adalah Sayoto. Glondong pertama sampai ketiga bertempat tinggal di wilayah desa Tapen sekarang ini dan untuk Glondong keempat sampai terakhir berpindah di kediaman yang sekarang ditinggali oleh keluarga Bpk Sri Darmaji. Penulis (Teguh Hindarto) masih ada hubungan keluarga dengan Bpk Sri Darmaji tersebut.