Kamis, 14 Februari 2013

DARI KALI RONG SAMPAI CLERENS:



MENELUSURI JEJAK-JEJAK SAMAR ASAL USUL
DESA KLIRONG DAN DESA GEBANGSARI


Tidak mudah mengetahui sejarah bermulanya sebuah desa khususnya desa Gebangsari dan desa Klirong yang menjadi wilayah Kecamatan Klirong dan Kabupaten Kebumen. Sumber informasi yang diperoleh masih begitu samar dan kontradiktif satu sama lain. Ketidakjelasan ini dikarenakan tidak adanya sumber-sumber tertulis (babad, tarikh) yang dapat dijadikan sumber rujukan ilmiah mengenai asal usul keberadaan sebuah desa. Satu-satunya sumber yang dimiliki adalah tradisi lisan (oral tradition).

Apakah tradisi lisan itu? Prof. Kuntowijoyo mengutip pandangan Jan Vansina dalam bukunya Once Upon a Time: Oral Traditions as History in Africa sbb: “Oral testimony transmitted verbally from one generation to the next one or more”[1] (Tradisi Lisan diteruskan secara mulut ke mulut dari satu generasi ke generasi berikutnya dan seterusnya demikian). Selanjutnya Prof. Kuntowijoyo menjelaskan, “Dalam tradisi lisan tidak termasuk kesaksian mata yang merupakan data lisan. Juga di sini tidak termasuk rerasan masyarakat yang meskipun lisan tetapi tidak ditularkan dari satu generasi ke generasi yang lain. Tradisi lisan dengan demikian terbatas di dalam kebudayaan lisan dari masyarakat yang belum mengenal tulisan”[2]

Saya menemui dua orang yang saya anggap memiliki sejumlah informasi mengenai asal usul Desa Gebangsari dan Desa Klirong yaitu Bpk Sri Darmaji (Kepala Desa Klirong) dan Bpk Parluji (Kepala Desa Gebangsari). Kedua orang ini menjadi nara sumber yang cukup mengetahui tradisi lisan asal usul kedua desa tersebut.

Bapak Sri Darmaji menjelaskan asal usul desa Gebangsari dan Klirong sbb: Bermula dari kisah seorang pangeran yang berasal dari wilayah Mataram (tidak jelas raja Mataram mana yang dimaksudkan) yang bernama Prabu Jaka hendak “bebedak” (berburu) dan sampailah di sebuah hutan di wilayah yang sekarang merupakan wilayah kecamatan Klirong. Nama desa “Bobang” diyakini berasal dari nama “Kebo Abang” yang dijumpai oleh Prabu Jaka. Sang pangeran ternyata tertarik untuk tinggal di di wilayah tersebut sehingga berniat mendirikan kerajaan baru di wilayah tersebut dengan sejumlah prajurit yang mengiringinya.

Namun sang raja yang sudah uzur usianya menghendaki putranya kembali pulang sehingga diutuslah adik perempuan sang pangeran. Namun sang adik pangeran tidak datang dengan status dirinya yang adalah adiknya melainkan datang dengan menyamar menjadi seorang penari. Namun ketika sang pangeran melihat adiknya yang menyamar tersebut, dia menganggap adiknya adalah mata-mata dari Mataram sehingga dia memutuskan untuk membunuhnya. Tidak lama kemudian sang pangeran menerima kabar bahwa orang yang dibunuhnya adalah adiknya sendiri. Hati sang pangeran menjadi masygul sehingga dia memutuskan untuk membunuh dirinya sendiri.

Demi didengar kematian sang pangeran dan adik sang pangeran, sang raja memutuskan untuk mengambil kedua jenasah anaknya sekalipun sudah dikebumikan. Menurut kisah yang beredar, sang raja mengutus para prajuritnya untuk mengambil jenasah dari dalam bumi dengan cara berjalan menembus bumi dari Mataram sampai ke wilayah yang sekarang berada di wilayah Kecamatan Klirong. Pasukan dibagi dua antara pasukan di wilayah Mataram dan pasukan yang berada di wilayah yang sekarang disebut Kecamatan Klirong. Nama Klirong sendiri berasal dari kata “Kali” (sungai) dan “Rong” (lubang di bawah tanah) yang menunjukkan aktifitas para prajurit Mataram saat berjalan dan menembus bumi membuat “urung-urung” (lubang) dengan kesaktian mereka saat mengambil kedua jenasah putra raja tersebut.

Para pasukan yang berhasil membawa jenazah tersebut kembali ke Mataram. Dalam setiap perjalanan mereka menamai masing-masing lokasi yang mereka singgahi sesuai dengan peristiwa yang mereka alami. Sebagai contoh desa Klampis (masuk wilayah Kecamatan Klirong) berasal dari kata “Ambegan Kempis-kempis” (nafas megap-megap). Istilah ini menunjuk aktifitas para prajurit mataram yang kelelahan saat menembus bumi dan saat mereka beristirahat maka mereka menamai desa tersebut dengan “Klampis”. desa Ambal di wilayah Kutowinangun diduga berasal dari istilah “Ambal-ambalan” (bertepuk tangan bersahutan). Istilah ini dihubungkan dengan aktifitas tepuk sorak para prajurit Mataram saat mereka berhasil membawa jenasah kedua putra raja tersebut[3].

Dimanakah letak makam kedua putra raja yang dikebumikan tersebut? Menurut Bapak Sri Darmaji dan Bapak Parluji makam tersebut berada di desa Gebangsari dimana saat ini menjadi lokasi kandang sapi kelompok tani milik warga. Ketika saya mengunjungi tempat tersebut, situs tersebut telah dipindahkan lokasinya beberapa meter dari lokasi yang sekarang di tempati sejumlah hewan ternak sapi. Menurut keterangan Bapak Parluji, saat beberapa tahun silam makam tersebut dipindahkan, tidak berisikan apapun hanya ada terdapat “paesan” (cungkup) kuno yang sekarang dipasangkan kembali sekalipun dengan bentuk makam modern[4].




Lokasi Makam Prabu Jaka



Lokasi Lama Pekuburan Prabu Jaka

Apakah kisah-kisah di atas dapat dipercaya dan memiliki nilai faktual historis? Sulit menjawab soal faktualitas dan historitas di atas. Kisah setengah dongeng tersebut tidak bisa begitu saja dipercaya namun tidak bisa begitu saja diabaikan.

Persoalan fenomena supranatural (menembus bumi) bukan persoalan mustahil di tanah Jawa dengan latar belakang zaman raja-raja. Namun alur logika kisah di atas cukup diragukan kebenarannya. Pertama, mengapa sang raja Mataram harus mengirim para pasukannya dengan melalui bawah tanah jika wilayah yang akan didatangi bukanlah sebuah wilayah musuh sehingga harus mengambil jenasah kedua putra dan putrinya dengan cara demikian? Mengapa tidak melalui jalur darat dengan diiringi panji-panji kebesaran? Kedua, bisa jadi orang-orang tua zaman dahulu membuat kisah atau cerita dengan metode “gothak gathuk mathuk” dengan membuat persamaan bunyi dan artinya menjadi sebuah kisah seperti istilah “Klirong” yang berasal dari “Kali” dan “Rong”. Padahal dalam salah satu tulisan yang saya baca, nama Klirong dihubungkan dengan nama seorang prajurit Belanda asal Prancis bernama Clerens yang tertembak saat perang Pangeran Diponegoro. Karena lidah Jawa kurang fasih melafalkan nama asing maka muncullah nama “Klirong”[5]. Sampai di sini kita melihat beberapa data dan informasi yang bertabrakan dan tidak sinkron sehingga membuat kesamaran akan faktualitas dan historitas desa Gebangsari dan desa Klirong.

Sebagaimana saya jelaskan di atas, kita tidak bisa begitu saja mengabaikan kisah-kisah di atas mengingat di wilayah desa Gebangsari sendiri terdapat sejumlah situs penting selain situs makam Prabu Jaka yang sudah tidak ada isi jasadnya. Situs penting lainnya yang masih terkait secara tidak langsung dengan Prabu Jaka adalah makam Adipati Anden di wilayah desa Bobang dan makam Maduretno dan Maduseno.

Siapakah Adipati Anden itu? Bpk Sri Darmaji memberikan keterangan, ada dua penjelasan mengenai asal usul Adipati Anden. Pertama, beliau keturunan Sultan Mataram dari garwo ampilan. Kedua, beliau adalah anak dari imam mesjid di Mataram.



Lokasi Makam Adipati Anden

Dalam perjalanan waktu, Adipati Anden kelak akan menurunkan sejumlah keturunan yang kelak akan menjadi “Glondong” (kepala para lurah). Di wilayah Klirong. Menurut Bpk Sri Darmaji yang masih keturunan “Glondong” Klirong, Glondong pertama di pimpin oleh Kartodikromo dan Glondong terakhir adalah Sayoto. Glondong pertama sampai ketiga bertempat tinggal di wilayah desa Tapen sekarang ini dan untuk Glondong keempat sampai terakhir berpindah di kediaman yang sekarang ditinggali oleh keluarga Bpk Sri Darmaji. Penulis (Teguh Hindarto) masih ada hubungan keluarga dengan Bpk Sri Darmaji tersebut.



Kepala Desa Klirong, Bpk Sri Dharmaji
Mendiami Rumah Glondong Klirong

Makam Adipati Anden sejak tahun 1975 dibangun oleh Alm. Jendral Ali Murtopo sebagaimana terlihat dalam gambar di atas. Istri Ali Murtopo masih ada trah atau hubungan darah dengan Adipati Anden.

Masih di sekitar wilayah Bobang ada situs penting lainnya yang juga kurang terawat dan masih berkaitan dengan keluarga Adipati Anden seperti Maduseno dan Maduretno dan beberapa makam lain yang tidak memiliki nama sebagaimana terlihat di bawah ini.



Lokasi Makam Maduretno dan Maduseno



Beberapa Makam Keluarga Maduseno dan Maduretno yang Tidak Teridentifikasi

Melihat bentuk nisan, nampak bahwa orang yang dikubur di sini bukan berasal dari wilayah setempat melainkan ciri dari wilayah Yogyakarta dan sekitarnya alias kerajaan Mataram Islam.

Selain situs di atas, masih ada lagi situs yang dikenal dengan situs “Puser Bumi Klirong”. Ada dua situs makam di wilayah pekarangan warga yang diyakini sebagai makam seorang prajurit dengan makam kudanya. Tidak ada keterangan apapun yang dapat diperoleh mengenai kedua situs makam berupa gundukan batu bata tersebut



Lokasi Makam Puser Bumi Klirong

Kemunculan nama Adipati Anden menimbulkan permasalahan baru jika dikaitkan dengan keberadaan wilayah Kadipaten Panjer kuno sebagai cikal bakal kota Kebumen. Jika keberadaan Adipati Anden lebih tua dan ada terlebih dahulu dibandingkan Kadipaten Panjer, maka usia desa Gebangsari dan Klirong lebih tua dari Kadipaten Panjer yang sekarang berada di wilayah kota Kebumen. Sekali lagi, informasi ini tidak memiliki kepastian mengingat keberadaan Adipati Anden dan sejumlah situs penting yang berada di wilayah Gebangsari dan Klirong tidak memiliki tarikh yang dapat diidentifikasi sehingga bersifat meraba-raba saja.

Selain situs-situs penting, penulis juga berusaha menelusuri pendataan kuno Persil (letak tanah) yang ditulis oleh Kaum Sanjaya pada tahun 1933. Pendataan Persil itu ditulis rapih dengan pensil yang berisikan peta tanah dan perhitungan luas tanah. Sekalipun kertas sudah dimakan ngengat namun masih terbaca dengan baik.


Pendataan Persil 1933


Arsip Persil di Balai Desa Klirong


Apa arti data Persil tertanggal tahun 1933 tersebut? Bpk Sri Dharmaji menyampaikan dua asumsi. Pertama, pembuatan catatan pendataan tersebut tentu tidak dibuat berdasarkan inisiatif pribadi. Catatan tersebut pasti dibuat oleh perintah otoritas yang lebih tinggi yaitu Bupati. Maka penetapan hari jadi Kebumen 1 Januari 1936 seharusnya ditinjau ulang karena pada tahun 1933 sudah ada pendataan atas perintah seorang bupati. Maka seharusnya hari jadi Kebumen bukan tahun 1936 melainkan 1933 atau 1930-an. Kedua, pendataan yang dibuat tahun 1933 merupakan persiapan menuju penggabungan Kebumen, Ambal, Karanganyar sebelum kelak diresmikan pada tahun 1936 oleh Gubermen Belanda De Jonge. Persiapan pendataan diperlukan agar terjadinya ketertiban status dan letak tanah warga. Maka wacana penggabungan nampaknya sudah terjadi sebelum tahun 1936.

Saya lebih memilih asumsi kedua yang lebih masuk akal bahwa pendataan Persil dimaksudkan sebagai persiapan untuk penggabungan kelak dan cikal bakal diresmikannya Kabupaten Kebumen pada tanggal 1 Januari 1936. Bagi saya, data Persil 1933 justru semakin mengokohkan analisis dan kesimpulan saya dalam artikel yang telah saya susun sebelumnya, bahwa kita tidak perlu melakukan revisi hari jadi Kebumen atas desakan sejumlah pihak yang berasumsi bahwa menetapkan kelahiran Kebumen pada tahun 1936 adalah keliru[6].

Penetapan hari jadi Kebumen tanggal 1 Januari 1936 secara De Jure (hukum) sah namun secara De Facto (kenyataan) Kebumen memiliki latar belakang sejarah lampau yang panjang. Sejarah Panjer sebagai cikal bakal Kebumen dapat diletakkan sebagai sejarah Pra Kebumen.

Tulisan awal ini masih memerlukan sejumlah data dan fakta untuk memperlengkapi seluruh kondisi faktual dan historikal asal usul desa Gebangsari dan Klirong. Kiranya di hari-hari berikutnya kita akan menemukan sejumlah fakta-fakta baru yang dapat membuat gambaran yang utuh mengenai asal-usul desa yang usianya lebih tua dari Kadipaten Panjer itu sendiri.





END NOTES
----------------
[1] Prof. Kuntowijoyo, Metodologi Sejarah, Yogyakarta: Tiara Wacana, 2003, hal 25


[2] Ibid.,

[3] Wawancara dengan Bapak Sri Darmaji (Kepala Desa Klirong), Tgl 10 Februari 2013

[4] Wawancara dengan Bpk Parluji (Kepala Desa Gebangsari) dan peninjuan lokasi, Tgl 10 Februari 2013

[5] Haryadi Marsono, Sekilas Kabupaten Kebumen
http://www.pesonagetar.com/kategori/berita-333-sekilas-kabupaten-kebumen.html

[6] Teguh Hindarto, Memisahkan Fakta dan Fiksi Seputar Sejarah Berdirinya Kebumen
http://teguhhindarto.blogspot.com/2013/01/memisahkan-fakta-dan-fiksi-seputar.html?showComment=1360713771839#c6080456938089565754g


8 komentar:

  1. akhirnya dimuat juga. matursuwun :D

    BalasHapus
  2. Terimakasih atas atensi Mas Catur Pamungkas. Ikuti terus kajian kami tentang Kebumen

    BalasHapus
  3. Maaf pak...di desa petanahan jg banyak makam makam kuno seperti makam adipati semanu,adipati pertinggi dan masih banyak lagi...

    BalasHapus
  4. Terimakasih atas atensi saudara. Mungkin bisa membantu saya dengan membuat deskripsi lokasi, alamat dan beberapa foto serta sejarah singkat yang Anda ketahui mengenai lokasi makam-makam tersebut. Terimakasih

    BalasHapus
  5. terima kasih telah bercerita babad alas Klirong, terutama tentang Adipati Anden ...memang harus diakui bahwa cerita tersebut hanya diturunkan dari generasi ke generasi melalui cerita atau mendongeng,.....saya juga pernah mendapat dongen tersebut bahkan kami sempat mencoba menulis tentang sorosilah dari Adipati Anden, yang saya belum mengetahui adalah dimana makam para leluhur tersebut karena banyak yang sdh tidak ada namanya.sekali lagi kami terima kasih.

    BalasHapus
  6. Adipati anden kan di jogomertan.bukan di klirong

    BalasHapus
  7. Adipati anden kan di jogomertan.bukan di klirong

    BalasHapus