Rabu, 17 Juni 2015

SUNGAI LUK ULO: PERSPEKTIF HISTORIS, GEOLOGIS, EKONOMI SERTA SOSIAL BUDAYA

Sungai Luk Ulo dikenal sebagai sungai dengan kelokan-kelokan yang membelah wilayah Kebumen menjadi bagian Barat dan Timur. Berbagai aktifitas kerap terlihat di sepanjang aliran sungai Luk Ulo, mulai dari penambangan pasir, pencari bahan batu yang akan diolah menjadi batu akik, sampai aktifitas sehari-hari berupa mencuci baju atau mandi di aliran sungai bagi beberapa kelompok orang.

Sungai Luk Ulo terletak di wilayah Provinsi Jawa Tengah yang bermuara ke Samudera Hindia. Sungai yang biasa disebut Kali Lukulo ini mengalir dari utara ke selatan dan melintasi tiga kabupaten yaitu Kabupaten Kebumen, Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo sepanjang kurang lebih 68,5 Km. Luas keseluruhan DAS Luk Ulo adalah 675,53245 km2. Adapun yang masuk wilayah Kebumen seluas 572,84365 km2. Sisanya masuk Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo. Sungai Luk Ulo berhulu di Pegunungan Sarayu Selatan dan memiliki hilir di Samudera Hindia dengan nama Muara Tanggulangin  (1)

Sungai Luk Ulo memiliki nilai historis maupun geologis dan ekonomis serta sosial budaya. Oleh karenanya kita akan melihat keberadaan sungai Luk Ulo dari tiga perspektif yaitu baik secara historis, geologis maupun ekonomis serta sosial budaya.

Perspektif Historis Luk Ulo. 

Perbatasan Wilayah Majapahit dan Pajajaran. Menurut tradisi lisan, eksistensi sungai ini telah menjadi pembatas antara Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Pajajaran. Wilayah barat masuk wilayah kadipaten Pasir Luhur yang menjadi bagian dari Kerajaan Pajajaran semantara wilayah timur menjadi bagian dari Kerajaan Majapahit (2). Sayangnya pernyataan bahwa sungai Luk Ulo adalah wilayah batas Majapahit dan Pajajaran sukar mendapatkan Mengenai luas wilayah kekuasaan Majapahit memang masih menjadi perdebatan. Hasan Djafar, seorang ahli arkeologi, epigrafi, dan sejarah kuno mengatakan,”Wilayah Majapahit itu ada di Pulau Jawa. Itu pun hanya Jawa Timur dan Jawa Tengah” (3). Namun jika membaca uraian dalam Kitab Negarakertagama akan menjadi jelas mengenai luas wilayah Majapahit. Negarakretagama terdiri atas dua bagian. Bagian pertama dimulai dari pupuh 1 – 49. Sedangkan bagian kedua dimulai dari pupuh 50 – 98. Judul asli dari manuskrip ini adalah Desawarnana yang artinya Sejarah Desa-Desa. Sejak ditemukan kembali oleh para arkeolog, naskah ini kemudian dinamakan Negarakretagama yang artinya Kisah Pembangunan Negara. Naskah ini selesai ditulis pada bulan Aswina tahun Saka 1287 (September – Oktober 1365 Masehi), penulisnya menggunakan nama samaran Prapanca, berdasarkan hasil analisis kesejarahan yang telah dilakukan diketahui bahwa penulis naskah ini adalah Dang Acarya Nadendra , bekas pembesar urusan agama Budha di istana Majapahit. Beliau adalah putera dari seorang pejabat istana di Majapahit dengan pangkat jabatan Dharmadyaksa Kasogatan. Penulis naskah ini menyelesaikan naskah kakawin Negarakretagama diusia senja dalam pertapaan di lereng gunung di sebuah desa bernama Kamalasana. Berikut adalah terjemahan lengkapnya dalam Bahasa Indonesia (4).

Mengenai luas wilayah Majapahit dapat dibaca pada Pupuh XIII-XIV sbb: