Senin, 08 Mei 2017

ROKOK KLEMBAK MENYAN GOMBONG: Potret Aktivitas Ekonomi Klasik dan Sejarah Publik


Dibalik aneka ragam persaingan bisnis rokok nasional dan internasional serta regulasi pemerintah yang membatasi dan melarang aktifitas merokok di ruangan publik yang telah ditetapkan (sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2003 “Tentang Pengamanan Rokok bagi Kesehatan” dan Undang Undang Nomor 36 Tahun 2009 “Tentang Kesehatan”), di pusat kota Gombong tepatnya Jl. St. Wonokriyo, aktifitas produksi rokok lokal yang telah berdiri sejak tahun 1950 tetap bergeliyat. 

Namanya adalah Perusahaan Rokok Klembak Menyan “Sintren” yang dikelola oleh Edi Hendrawanto. Perusahaan ini berjaya pada tahun 1950-an dan yang masih tetap bertahan hingga hari ini di saat perusahaan lainnya telah gulung tikar. Diawali dari  pasangan suami istri The Tjoan (Agus Subianto) dan Tjo Goe Nio (Setiawati)yang memperoduksi rokok klembak menyan merek “Sintren”, “Togog” dan “Bangjo”, usaha ini kemudian diteruskan oleh 3 anak dari 9 anak keturunan The Tjoan atau Agus Subianto yaitu Budi Susanto (mengelola rokok “Togog”) Edi Hartanto (mengelola rokok “Sintren”) dan Edi Hendrawanto (mengelola rokok “Bangjo”).

Rokok klembak menyan memiliki sejumlah elemen yaitu tembakau dicampur serbuk menyan hitam dan serpihan akar klembak. Semua elemen tersebut disatukan dalam pintalan kertas papir berwarna putih.  Rokok sendiri memiliki beberapa jenis berdasarkan pembungkusnya yaitu, Klobot (bahan pembungkusnya berupa daun jagung), Kawung (bahan pembungkusnya berupa daun aren), Sigaret (bahan pembungkusnya berupa kertas), Cerutu (bahan pembungkusnya berupa daun tembakau). Rokok klembak menyan masuk kategori rokok sigaret jika didasarkan alat bungkusnya yang terbuat dari kertas.

Pagi itu, Bapak Edi Hartanto (pemilik perusahaan rokok “Sintren”) didampingi Bapak Sigit dari Museum Rumah Martha Tilaar berkenan memberikan penjelasan singkat dan mengajak saya melihat ruangan demi ruangan produksi. 

Di mulai dari ruangan pemotongan kertas rokok (papir) yang didatangkan dari Kudus. Kertas putih diberi aroma wangi kemudian dipotong kecil-kecil agar mudah dipergunakan untuk melinting rokok. 

Ruangan berikutnya yaitu ruang pencampuran tembakau mulai dari kualitas nomor 1-3. Tembakaunya sendiri didatangkan dari Muntilan. Pencampuran tembakau dimaksudkan agar dapat terjangkau oleh daya beli masyarakat. Jika semua tembakau menggunakan kualitas nomor satu maka tidak akan terjangkau oleh masyarakat. 

Ruangan berikutnya adalah ruangan penumbukkan menyan hitam yang didatangkan dari Sumatera. Jika menyan putih lebih banyak dipergunakan untuk industri parfum maka menyan hitam yang lebih murah dipergunakkan sebagai campuran. Penumbukkan menyan dilakukan secara manual dan tradisional yaitu menumbuk melalui lesung kayu oleh dua orang wanita yang sudah uzur usianya. Ruangan yang terakhir adalah penyatuan semua unsur dan elemen mulai dari tembakau, klembak dan menyan. Semua unsur dipilin menjadi gulungan rokok. 


Pelanggan rokok merk “Sintren”  meliputi Kebumen, Kroya, Purwokerto dan Gombong. Untuk pemasaran rokok cap “Togog” meliputi wilayah utara yakni Purbalingga, Magelang hingga Wonosobo. Untuk “Bangjo” antara lain Purwokerto, Sidareja, Majenang dan Ajibarang. Sedang untuk luar Jawa ke propinsi Jambi. Setiap bulannya bisa memproduksi 4000 bal (atau 400.000 batang rokok karena 1 bal berisi 10 bungkus dan 1 bungkus berisi 10 buah rokok).

Apa yang menyebakan industri rokok klembak menyan masih bertahan? Saya mempergunakan istiah “bertahan” karena memang tidak ada ekspansi bisnis dan pembukaan cabang baru yang dapat ditemukan sebagaimana perusahaan rokok modern lainnya. Pertama, pasar penggunanya masih ada yaitu mereka yang berusia lanjut sekitar 60-an ke atas. Romantisme masa lalu tidak bisa dihilangkan begitu saja. Menghisap rokok klembak menyan bagi orang tua tertentu menghidupkan peristiwa dan kenangan tertentu di masa silam. Kedua, penggunaan ritual religius dalam kesenian maupun adat istiadat masyarakat misalkan untuk keperluan sesaji saat akan melakukan pentas kesenian Ebleg misalnya atau ritual Suro. Seperti kita ketahui, menyan yang terkandung dalam rokok klembak menyan kerap dihubungkan dengan aktifitas mengundang roh-roh halus tertentu.


Yang menarik dari Perusahaan Rokok Klembak Menyan “Sintren” adalah para pegawai atau pekerjanya yang didominasi oleh kalangan wanita berusia uzur antara 60-70-an bahkan ada seorang wanita uzur berusia 80-an. Mereka adalah para pekerja yang sejak usia 20-an sudah bekerja di perusahaan tersebut. Mengapa mereka tidak memilih pensiun sekalipun kehidupan anak-anak mereka mungkin sudah berkecukupan dan mampu mencukupi kehidupan mereka secara ekonomi? Ada ragam jawaban yang salah satunya adalah mereka seakan menemukan gairah kehidupan di tempat yang bisa mempertemukan mereka dengan teman-teman masa muda mereka (sekalipun beberapa ada yang sudah meninggal) dan tidak kesepian tanpa sebuah pekerjaan di rumah. 




Tidak pernah ada kasus PHK di perusahaan ini. Hubungan industrial yang dibangun antara majikan dan buruh sangat baik sehingga tercipta hubungan yang bersifat kekeluargaan dan tidak terikat pada peraturan industri secara rasional dan ketat pada umumnya. Semisal para pekerja ini ada yang sedang sibuk panen di sawahnya mereka dibebaskan untuk tidak bekerja tanpa pemotongan gaji. Berhentinya buruh hanya dikarenakan dua faktor yaitu ketidakmampuan secara fisik dan kematian.

Ditengah ketatnya regulasi pemerintah berkaitan dengan pelarangan merokok dan sejumlah dampak yang ditimbulkan oleh kegiatan merokok, ternyata menurut banyak kesaksian merokok dengan tembakau dan klembak menyan memiliki kadar risiko yang berbeda dengan rokok kretek modern.

Sebelum ada penggunaan rokok kretek modern dengan menggunakan filter, tidak terlalu banyak kasus ditemukan dimana para perokok klembak menyan mengalami gangguan paru-paru. Sebaliknya mereka justru meyakini bahwa ada kandungan rempah-rempah dalam klembak menyan yang dapat menyegarkan pernafasan bahkan menyembuhkan batuk yaitu “klembak”.  

Klembak sendiri diyakini memiliki sejumlah khasiat yaitu sebagai pencahar, penurun kadar kolesterol, anti hipertensi dll. Bahkan saya pernah diminati bapak mertua saya yang sakit batuk untuk membelikan rokok klembak menyan dan akhirnya malah sembuh. Penelitian yang lebih intensif diperlukan untuk membuktikan sejumlah klaim dan kesaksian di atas. Menariknya, rokok klembak menyan yang diproduksi oleh Bapak Edi Hartanto ini dibebaskan dari pencantuman batas tar dan nikotin yang biasanya disematkan oleh Badan POM.

Kegiatan merokok dan membuat rokok - terlepas dari bahaya yang mengancam dan dipublikasikan secara masif oleh lembaga-lembaga kesehatan internasional termasuk pemerintah – khususnya klembak menyan, bukan hanya sebuah kegiatan berdimensi ekonomi belaka melainkan memiliki dimensi historis dan kultural. Inilah pula yang menjadikan kegiatan merokok dan produksi rokok ini tetap dapat bertahan di tengah zaman yang terus berubah.

Dikatakan berdimensi historis karena rokok ini berhasil bertahan selama puluhan tahun di tengah gempuran persaingan dengan rokok-rokok modern yaitu kretek dan berfilter. Dikatakan berdimensi kultural dikarenakan rokok klembak menyan menjadi bagian dalam ritual seni dan kebudayaan tradisional yang dufungsikan sebagai sesaji dan bagian dari melibatkan kehadiran mahluk halus tertentu.

Keberadaan rokok klembak menyan “Sintren”, “Togog”, “Bangjo” merupakan bagian dari kisah sejarah produksi ekonomi klasik di Gombong yang masih bertahan hingga kini. Dibalik wajah renta yang bekerja melipat gulungan rokok, menyimpan banyak kisah dan cerita yang dapat digali saat mereka masih bekerja di usia belia dimana telah sekian kali rezim berganti dengan karakter pemerintahan yang berbeda? Peristiwa-peristiwa sejarah kehidupan sosial tersimpan dalam guratan wajah yang semakin mengeriput. 

Kita dapat menggali sejarah kota kita sendiri dari mozaik ingatan yang disatukan menjadi narasi sejarah publik yang tidak disusun semata-mata oleh kalangan akademik. Sejarah publik dapat kita temukan di pekerja pabrik, para penjual buah, buruh di ladang tebu, para pekerja tani, para penjaga kebersihan kota, para jurnalis, para pendidik, aparatus keamanan dll. Dari mereka kita bisa melihat masa lalu untuk dipertimbangkan sebagai sebuah kebijakkan di masa kini dan akan datang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar