Sabtu, 20 Mei 2017

SEBUAH CATATAN UNTUK PERTUNJUKKAN TEATRIKAL “KETIKA IBLIS MENIKAHI SEORANG PEREMPUAN” OLEH TEATER MARGIN


Menyenangkan dan menarik bisa melihat aksi teatrikal secara langsung yang disajikan oleh anak-anak muda Fakultas Ekonomi Unsoed yang tergabung dalam Teater Margin dengan judul, Ketika Iblis Menikahi Seorang Perempuan. Biasanya saya hanya menonton dari layar televisi atau membaca sejumlah laporan koran perihal berbagai laporan pementasan sebuah teater. Dengan melihat secara langsung sebuah pertunjukkan teater maka terjadi interaksi emosional dengan kisah dan tokoh yang dihadirkan. Apalagi jika didukung dengan penataan dan permainan cahaya serta iringan musik yang melatarbelakangi sebuah moment dalam setiap babak aksi teatrikal. Seluruh aksi pementasan yang sinergis dan maksimal baik dari segi permainan peran, efek pencahayaan serta iringin musik pasti akan menimbulkan kesan yang terus hidup dalam pikiran pemirsa sekalipun pertunjukkan tersebut telah usai. Inilah yang dalam bahasa Sosiologi Komunikasi diistilahkan dengan theater of mind (H.M. Burhan Bungin, Sosiologi Komunikasi: Teori, Paradigma dan Diskursus Teknologi di Masyarakat, 2006:177).

Pementasan yang dilaksanakan di Kebumen pada tanggal 20 Mei 2017 sangat memukau apalagi dengan judul yang menarik perhatian yaitu, Ketika Iblis Menikahi Seorang Perempuan. Judul di atas sebenarnya merupakan karya klasik dari Niccolo Machiavelli (1469-1527) dengan judul Belfagor Arciadivolo yang ditulis antara tahun 1518 dan 1527 dan diterbitkan secara utuh bersama karya-karya lainnya pada tahun 1549 dengan judul La favola di Belfagor Arcidiavolo and Il Demonio che prese Moglie. Kita mengenal nama Niccolo Machiavelli lebih sebagai ahli politik yang menuliskan buku yang kelak dijadikan panduan bagi diktatorialisme yaitu Il Principe atau kemudian diterjemhkan dalam bahasa Inggris The Prince (Sang Pangeran). Namun Machiavelli ternyata banyak menuliskan karya-karya fiksi yang salah satunya berjudul Belfagor Arciadivolo yang diterjemahkan dalam bahasa Inggris dengan judul The Devil Take a Wife. Naskah ini semula adalah sebuah novella (prosa fiktif dan naratif yang lebih panjang dari cerita pendek namun lebih singkat dari sebuah novel). Dalam perkembangannya banyak mengalami perubahan dan adaptasi cerita termasuk saat diterjemahkan dan dipentaskan dalam aksi teatrikal berbahasa Indonesia.

Kisah ini dibagi dalam lima babak. Babak Pertama, menceritakan kehebohan di neraka akibat berbagai keluhan yang dilontarkan para pria yang mati dan berada di neraka dimana mereka menyalahkan para wanita dan istri-istri mereka sebagai penyebab mereka melakukan berbagai tindakan berdosa yang mengirim mereka ke neraka. Minos dan Radamantes salah satu dari setan-setan di neraka tidak percaya begitu saja dengan keluhan dan tudingan para lelaki tersebut. Mereka mengusulkan pada Pluto, Raja Neraka untuk membuat sebuah sidang. Agar tercapai keputusan yang obyektif maka sidang pengadilan neraka memutuskan untuk melakukan sebuah penelitian yang seksama dengan cara mengirim salah satu setan untuk menjadi manusia dan memasuki kehidupan manusia. Keputusan sidang menunjuk pada Belfagor, setan terbesar yang tadinya adalah malaikat sebelum diusir dari surga. Bahkan dalam keputusan tersebut, Belfagor harus menjalani semua ketidaknyamanan dan penyakit yang harus diderita pria, apakah itu kemiskinan, penjara, penyakit atau malapetaka lainnya yang menimpa orang-orang, kecuali yang bisa dia lepaskan dari dengan tipu daya atau kepintaran. Sekalipun dengan enggan menerima tugas tersebut, akhirnya Belfagor menerimanya dan masuk dalam dunia manusia dengan nama Roderigo dari Castille. Dia diberi bekal sebesar 100.000 Dukat dan hidup sebagai manusia selama 10 tahun.


 Babak Kedua, menceritakan bagaimana kemudian Belfagor yang berubah nama menjadi Roderigo dari Castille memasuki kota Florence dan tinggal sebagai seorang peminjam hutang di kawasan Borgo d’Ognisanti. Dia hanya memperkenalkan dirinya sebagai seorang yang meninggalkan Spanyol melewati Syria dan menghasilkan uang di sana kemudian menuju Italia untuk mencari seorang istri. Banyak perempuan yang tergila-gila dengan ketampanan Roderigo dan banyak orang-orang tua menyodorkan anak perempuan mereka untuk dinikahi. Namun Roderigo hanya tertarik pada seorang wanita bernama Onesta anak perempuan Amerigo Donati. Namun Onesta bukan hanya cantik namun dia juga seorang perempuan yang gila harta dan cenderung hidup boros serta bermewah-mewah bahkan berkarakter keras pada suaminya. Banyak biaya yang harus dikeluarkannya untuk membiayai adik-adik Onesta dan berbagai pesta keluarganya sehingga membuat Roderigo jatuh bangkrut dan harus berhutang.

Babak Ketiga, menceritakan bagaimana Roderigo akhirnya melarikan diri dari rumahnya dan istrinya karena dikejar-kejar penagih hutang karena hutang-hutangnya yang bertumpuk. Sampailah Roderigo di sebuah ladang pertanian dan peternakan milik Gianmatteo del Brica, yang bekerja untuk Giovanni dal Bene. Dia meminta Gianmateo untuk menyembunyikan dirinya dan berjanji akan memberikan imbalan jika dia selamat dari kejaran orang-orang yang hendak menagih hutang. Setelah berhasil selamat kemudian Roderigo menceritakan jatidiri sebenarnya pada Ginamateo dan berjanji membalas kebaikkan Gianmateo dengan menjadikan Gianmateo seorang kaya dengan menjadikan Gianmateo sebagai seorang Exorcist (pengusir setan). Caranya adalah Roderigo atau Belfagor merasuki tubuh para wanita kemudian nanti Gianmatteo membisikkan pada telinga para wanita yang dirasuk sehingga nanti Belfagor atau Redigo akan keluar dari tubuh wanita yang dirasuk sehingga Gianmatteo akan menerima upah atas pekerjaannya tersebut.

Babak Keempat, mengisahkan bagaimana aksi Gianmatteo yang berhasil menyembuhkan dua anak perempuan yang dirasuk Belfagor. Yang satu anak Ambruogio Amidei dan anak perempuan Raja Charles dari Naples. Keberhasilan dua kasus exorcisme ini menjadikan Gianmateo menjadi kaya raya. Setelah berhasil menyembuhkan anak Raja Charles, Belfagor mengatakan pada Gianmatteo bahwa hutangnya sudah impas dan dia harus berpisah sampai di sini dan tidak akan bertemu lagi. Setengah mengancam, Belfagor mengatakan bahwa sebagaimana dirinya dapat mendatangkan kekayaan untuk Gianmatteo namun dirinya dapat pula mencelakakan dan menghilangkan nyawa Gianmatteo.

Babak Kelima, mengisahkan bagaimana Gianmatteo dihadapkan pada kasus dimana dilematis karena suatu hari anak raja Prancis Louis VII sakit keras dan dirasuk setan yang ternyata adalah ulah Belfagor. Dia menerima perintah raja untuk menyembuhkan anak perempuannya namun dia terikat perjanjian dengan Belfagor bahwa dirinya tidak akan lagi bertemu dan tidak akan memenuhi permintaan Gianmatteo lagi agar keluar dari tubuh manusia yang dirasukinya. Dengan terpaksa akhirnya Gianmatteo memenuhi permintaan raja karena takut ancaman hukuman pula. Saat berusaha mengusir Belfagor dari tubuh anak gadis Raja Louis, Belfagor marah dan mengancam akan membunuh Gianmatteo melalui tangan raja Louis dengan cara menggantungnya karena kegagalannya mengusir Belfagor dari tubuh anak perempuan Raja Louis. Dalam keputusaasaan, Gianmateo meminta raja menyiapkan altar pengusiran dengan diiringi alat-alat musik yang lengkap dan disaksikan para pejabat istana serta para rahib. Tidak lama kemudian raja menyiapkan dan saat Gianmatteo mendapat perlawanan dari Belfagor yang enggan keluar dari tubuh anak perempuan Raja Louis maka Gianmatteo memberikan isyarat pada raja agar para pemain musik memainkan alat musik dengan gaduh dan riuh memekakan telinga Belfagor. Saat Belfagor kebingungan dengan suara gaduh tersebut, Gianmatteo mendekati Belfagor dan berkata bahwa itu suara rombongan menyambut kedatangan istrinya yang mencarinya. Kontan tanpa berfikir panjang, Belfagor yang pernah menjadi manusia bernama Roderigo takut bukan main mendengar nama Onesta yang bukan hanya cantik dan tamak namun  kekasarannya yang luar biasa terhadap dirinya. Belfagor melepaskan cengkramannya pada anak perempuan Raja Louis dan kembali ke neraka serta menceritakan semua pengalamannya yang membenarkan tuduhan para suami yang ada di neraka dan betapa tidak inginnya dia kembali menjalani berbagai penderitaan sebagai manusia/suami. Sementara itu Gianmatteo yang berhasil mengakali Belfagor hidup bahagia setelah kejadian tersebut (Translating Machiavelli’s Belfagor - http://cdimatteo.com/italian/translating-belfagor/)

Apa yang disajikan oleh Machiavelli lebih memperlihatkan gambaran zamannya perihal wanita yang dianggap sebagai simbol kehidupan yang boros dan materialistik dan cenderung dianggap menyebabkan kejatuhan dan kemiskinan seorang laki-laki. Bahkan Setan pun takut pada seorang wanita yang pernah diperistrinya. 


Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa judul di atas telah banyak mengalami adaptasi disesuaikan dengan konteks dan kultur sebuah wilayah sehingga alur kisah dan pesan-pesan dalam narasi Machiavelli mengalami pergeseran. Judul di atas bukan hanya ditampilkan oleh Teater Margin melainkan berbagai kelompok teater lainnya. Dalam pementasan Teater Margin di Kebumen, tokoh Gianmatteo yang laki-laki diganti menjadi seorang perempuan dan tokoh setan teman-teman Belfagor yaitu Minos dan Rhadamantus dijadikan pembantu di rumah Belfagor yang menjadi manusia bernama Roderick dan mengalami penderitaan akibat kekejaman dan kekasaran istri Roderick.

Sayangnya, aksi yang memukau ini kurang dapat menyampaikkan pesan di akhir pementasan dan menyisakkan kebingungan bagi para penontonnya. Hal ini mengemuka saat diadakan diskusi usai pementasan. Bagi saya sendiri, pesan-pesan yang disampaikkan dalam pementasan tidak sampai kepada pemirsa dikarenakan beberapa faktor. Pertama, faktor teknis. Pementasan di ruangan Aula PGRI yang besar tidak diimbangi dengan microphone yang ditaruh di atas panggung sehingga banyak kata dan kalimat yang tidak sepenuhnya dapat didengar dan diikuti alurnya oleh pendengarnya. Kedua, latar belakang narasi yang berasal dari konteks Eropa Abad 15 tentu menimbulkan kesenjangan budaya dengan konteks budaya Asia khususnya Jawa bahkan Kebumen sehingga alur kisah yang seharusnya memberikan banyak informasi menarik perihal penggambaran wanita di Abad Pertengahan menjadi hilang ditelan kebingungan pemirsa. Ketiga, Akhir dari kisah yang tidak berhenti sesuai alur aslinya dimana Belfagor atau Roderigo atau dalam versi Teater Margin disebut Roderick kembali ke neraka dan melaporkan hasil penyamarannya menjadi manusia dan hanya berhenti di alur keberhasilan Gianmatteo mengusir Belfagor dari anak Raja Louis menjadi penyebab gagalnya pemirsa memahami secara utuh pesan kisah ini.

Namun demikian, saya pribadi sangat terhibur bukan hanya oleh aksi totalitas para pemainnnya melaionkan oleh sisipan-sisipan lelucon dalam berbagai adegan yang khas kultur Indonesia dan Jawa mulai dari megritisi soal demokrasi hingga keluh kesah penderitaan setan-setan yang menyamar menjadi manusia. Saya tidak sependapat dengan kritik dan ulasan salah satu pemirsa yang mengritik perihal sisipan musik yang dianggapnya mengaburkan esensi teater menjadi terkesan konser. Justru saya melihat bahwa sisipan musik yang menarik nada dan isinya sudah tepat menjadi iringan setiap adegan dan emosi-emosi yang ditampilkan para pemeran tokoh serta menjadi jeda pengisi pergantian babak.

Kiranya aksi-aksi teatrikal yang lebih intens dan lebih baik lagi dapat dihadirkan oleh Teater Margin di Kebumen dan mendorong terbentuknya struktur pemahaman apresiatif terhadap seni teater serta terbentuknya kelompok-kelompok teater yang bukan hanya menghadirkan seni pentas melainkan seni kritik sosial dalam sebuah pentas teater.

2 komentar:

  1. terima kasih banyak pak teguh atas ulasan mengenai pementasan kami kemarin, banyak hal yg masih harus kamu pelajari lebih dalam hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mas Herman Sang Sutradara ya? Maju terus saya mendukung dan appreciate dengan Teater Margin. Ditunggu pementassnnya di Kebumen dengan tema-tema menarik lainnya

      Hapus