Selasa, 13 Juni 2017

PEMANDIAN AIR PANAS KRAKAL DI ERA KOLONIAL: WEISBADEN DI HINDIA


Krakal adalah sebuah desa di kecamatan Alian, Kebumen, Jawa Tengah, Indonesia. Desa Krakal berada di sebelah timur laut dari pusat Kabupaten Kebumen berjarak sekira 11 Km berkendara melalui Surotrunan. Desa Krakal juga merupakan pusat Kecamatan Alian. Desa Krakal memiliki luas wilayah 650 Hektar yang dihuni oleh sekitar 7.540 penduduk dalam 8 pedukuhan/dusun.

Di desa Krakal inilah terletak sebuah pemandian air panas yang hingga kini ramai dikunjungi orang di hari-hari tertentu. Pemandian air panas Krakal bukan hanya sebuah tempat wisata namun sebuah lokasi cagar budaya dikarenakan keberadaannya yang telah ada sejak era kolonial bahkan dinamai Indisch Wiesbaden oleh seorang dokter bernama Baumgarten (Een Indisch Wiesbaden - https://javapost.nl/2014/10/31/een-indisch-wiesbaden/). Nama Wiesbaden adalah salah satu kota pemandian tertua di Eropa dan terletak di Jerman Barat. Namanya diterjemahkan menjadi Meadows Bath (pemandian padang rumputmerujuk ke mata air panas. Di dunia Internasional terkenal karena arsitekturnya, iklimnya serta sumber air panasnya. Wiesbaden pernah mempunyai 26 sumber air panas namun hanya empat belas mata air yang masih tetap mengalir hari ini (Weisbaden - https://en.wikipedia.org/wiki/Wiesbaden).

Sekalipun di pintu masuk pemandian Krakal masa kini tertulis tahun pendirian sejak 1935 namun riwayat pemandian Krakal sudah ada sejak Abad 19 Ms yaitu di tahun 1891 dimana telah ada sebuah iklan di koran atas nama pengelola hotel bernama M. Fleker yang menawarkan pemandian air panas Krakal sebagai lokasi wisata. Bahkan sebelum tahun 1891 nampaknya lokasi tersebut telah menjadi legenda masyarakat yang dihubungkan dengan nama Kyai Agung Sabdo Guno dan Nyai Sumaningrum serta seorang putranya. Hanya ada perbedaan pendapat soal darimana mereka berasal. Menurut sumber lisan setempat asal usulnya dari Kraton Surakarta (Asal Mula Pemandian Krakal - http://facebumen.com/asal-mula-pemandian-krakal/), sementara sumber lain mengatakan mereka berasal dari Majapahit (Een Indisch Wiesbaden - https://javapost.nl/2014/10/31/een-indisch-wiesbaden/).



Dikemudian hari M. Fleker tidak melanjutkan bisnis hotelnya dan menjualnya pada R. Zuijderhoff. Pemandian Air Panas Krakal diiklankan lagi di sejumlah surat kabar. Sepuluh tahun setelah pembukaan hotel pertama, seorang dokter Dr. Van Effen, seorang dokter di Magelang,  berkunjung ke tempat ini, dan menuliskan kesan-kesannya di koran De Locomotief saat mengunjungi Kebumen dan pemandian air panas Krakal. Dengan mengutip penelitian Dr. Kunert (2 April 1883 ) dan Dr. K. Baumgarten (tanpa tahun).

Menurut penelitian Kunert, air Krakal sangat jernih, sama sekali tidak berbau dan berasa asin. Gelembung udara besar terus-menerus keluar dari airnya. Kedua deskripsi peneliti tersebut berujung pada hasil penelitian kimiawan militer bernama Polak, yang menunjukkan bahwa air panas Krakal mengandung unsur natrium chlorium, kalium, kalsium, magnesium, magnesium yodium dan asam silikat. Menurut komposisi kimia dan suhu air, mandi mandi di Krakal dapat diharapkan sangat bermanfaat dalam, mencegah penyakit usus dan wasir, pembengkakan hati dan limpa, radang alat kelamin wanita internal, rematik, egemukan, penyakit kelenjar (sclerosis) dan banyak penyakit luar dan dalam lainnya.



Tahun 1901, Dr. Van Effen membuat deskripsi dan laporan perihal keberadaan pemandian air panas Krakal yang masih terlalu sederhana dan tradisional lokasi dan tempatnya yang hanya bertutup bambu. Pada tahun 1902 seorang dokter bernama Dr. I Groneman dari Yogyakarta, melakukan perjalanan yang sama dengan Van Effen. Ia didampingi asisten residen bernama Sigal. Hasil laporannya dimuat di Handelsblad Soerabaijaasch, dengan judul, Wat Krakal ís en kan worden? (Apa Krakal itu dan yang Dapat Dilakukan).

Pada tahun 1918 sebuah artikel komprehensif tentang Krakal muncul di majalah Weekblad voor Indië, tevens damesweekblad voor Indië (Nummer 34, 1 December 1918). Penulisnya adalah seorang amatiran bernama Nyonya Terhorst de Boer yang menggambarkan akomodasi di sekitar Krakal sbb, “Hotel ini sebenarnya adalah kompleks bangunan yang saling berhubungan. Masing-masing bangunan mewakili semua gaya, baik Jawa, Eropa Kuno India, India Baru-Eropa - dan sekarang sebuah paviliun baru dibangun dengan gaya Eropa. Saat ini ada dua mobil dan beberapa sapi, tapi dalam semua kasus akan ada bangunan baru dengan empat kamar tamu”. Di sisi lain Nyonya Terhorst de Boer menggambarkan Krakal sbb,  tidak ada dokter, tidak ada sambungan telepon, tidak ada toko dan tidak ada hiburan. Justru karena semuanya begitu sederhana, hanya orang sakit belakayang datang tanpa bimbingan, dan itu membuat perjalanan tentu saja kurang atraktif, katanya.


Bahkan sampai tahun 1935, sebuah koran seperti De Locomotief masih menggambarkan kondisi Krakal yang terpencil sbb, “Tidak ada Boulevard des Anglais, tidak ada mobil, tidak ada lampu listrik atau pipa air ... Ada jalan setinggi 4 meter, dengan teras di sebelah kanan, tempat Kromo memiliki sebuah rumah yang digantungkan sebuah lentera minyak di kawatje dan sebuah tanda di seberang jalan dengan nama “Pemandian Krakal”. Ada sholat malam dan nyanyian para santri dan pemuda serta para petani berjalan menuju dan dari sawah. Lokasi ini benar-benar memperlihatkan sebuah desa yang terpencil dengan tempat istirahat yang mutlak, yang hanya akan ditemukan di tengah orang-orang yang hidup secara alami. Surat akan ada 3 kali seminggu; Tidak ada toko yang membantu Anda mandi; Semuanya harus datang dari Keboemen. Semuanya berjalan dengan dokar sepanjang 12 km dengan harga 50 sen. Ini adalah istirahat yang besar, seperti yang mungkin sudah mereka ketahui di masa Kjai Agoeng Sobdagoeno”.

Kondisi berbeda jika kita melihat pemandian air panas Krakal masa kini. Selain jalan yang lebih mudah di tempuh baik melalui angkutan umum antar desa demikian pula dengan kendaraan pribadi baik roda dua maupun roda empat. Apalagi di utara pemandian telah ada lokasi wisata baru bernama Alian Butterfly Park (ABP) atau Taman Kupu-Kupu Alian yang didirikan sejak 11 Juni 2015 menambah semarak lokasi wisata tersebut di hari tertentu. Namun demikian, bangunan-bangunan kolonial berupa hotel yang pernah ada di sekitar pemandian sudah berganti dengan bangunan baru dan kamar-kamar untuk terapi air panas. Hanya bangunan depan yang tersisa dimana tertulis tarikh 1935, masih memperlihatkan jejak era kolonialnya.

NB:

Foto Krakal era kolonial diperoleh dari
https://javapost.nl/2014/10/31/een-indisch-wiesbaden/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar