Selasa, 05 Januari 2016

TIDAK ADA PERADABAN KABALISTIK DI KEBUMEN!


Tanggapan Terhadap Artikel Ravie Ananda, 
“Temuan Peradaban Kabalistik di Kebumen”

http://kebumen2013.com/temuan-peradaban-kabalistik-di-kebumen/#prettyPhoto
 
Saat membaca judul dan memahami isi artikel Sdr. Ravie Ananda, saya benar-benar diherankan dengan sebuah istilah yang aneh dan tidak pernah ada dalam literatur manapun yaitu “peradaban Kabalistik di Kebumen”. Mengapa saya katakan aneh dan tidak pernah ada dalam literatur manapun? Pertama, penggunaan istilah peradaban yang dihubungkan dengan nama Kebumen terlalu berlebihan karena tidak pernah ada peradaban Kebumen selain peradaban Jawa dimana Kebumen adalah bagian dari Jawa. Berikut pernyataan Sdr Ravie Ananda terkait istilah “peradaban Kebumen”, “Masyarakat Kebumen bahkan cenderung tidak percaya jika ada ulasan sejarah peradaban kuno mengenai daerahnya dikarenakan terlalu lamanya data – data peradaban kita ditutup oleh penjajah dan kelompok tertentu saat ini dengan tujuan masing – masing. Ditinjau dari ilmu geologi, sebenarnya sulit dibantah bahwa keberadaan dataran Kebumen terbukti sebagai dataran pertama yang muncul di asia akibat tumbukan (subduksi) lempeng samudera dan benua. Dengan kata lain dataran Kebumen merupakan dataran tertua dimana seharusnya peradaban telah muncul sejak lama di tempat itu. Temuan terbaru berupa data Belanda yang berisi laporan temuan purbakala di daerah Kebumen pada kurun 1850 – 1900 an semakin membuka mata kita sebagai masyarakat Kebumen untuk lebih bangga dengan daerah sendiri karena dari data tersebut dapat diketahui bahwa peradaban Kebumen telah ada sejak jaman dahulu kala”.

Kedua, Menghubungkan istilah Kabalistik yang berasal dari kata Ibrani Kabalah dengan sebuah peradaban, padahal istilah Kabalah bukanlah sebuah nama untuk peradaban melainkan sebuah aliran keagamaan dalam Yudaisme yang menekankan aspek esoteris atau dunia batin yang setara dengan Tasawuf dalam Islam. Sangat minimnya pengetahuan bahkan data mengenai perjalanan sejarah peradaban kuno di Kebumen memiliki dampak besar terhadap kurangnya rasa handarbeni dan kecintaan generasi Kebumen terhadap daerahnya. Adanya ulasan – ulasan sejarah yang mayoritas tertuju pada peradaban kuno daerah lain akhirnya secara tidak sadar berhasil membuat jatuh hati termasuk juga generasi muda Kebumen pada daerah tersebut.  Dalam artikelnya, Sdr Ravie Ananda berusaha untuk membuktikan adanya “peradaban Kebumen” dengan menginventarisir sejumlah temuan di era kolonial yang tersimpan di Museum di Amsterdam namun tanpa menyebut nama museum tersebut padahal di Amsterdam ada banyak museum seperti: The Allard Pierson Museum, The Amsterdam Museum, The Anne Frank House, The Joods Historisch Museum, The Nederlands Filmmuseum, The Stadsarchief Amsterdam, Museumwoning Tuindorp Oostzaan, Tropenmuseum, Verzetsmuseum, dll. Dari 16 daftar yang ditulis Sdr. Ravie Ananda ada satu yang menarik perhatian saya yaitu pada urutan nomor 6 dengan penjelasan, “Cincin emas segel oval dengan sisi menyudut berinskipsi kabalistik, ditemukan di daerah Srepeng (daftar arsip no. 1345)”. 
 
Tidak Ada Peradaban Kebumen
 
Supratikno Rahardjo memetakan kajian peradaban menjadi beberapa kelompok pembahasan sebagaimana dikatakan, “Menurut permasalahannya, penggunaan istilah ‘peradaban’ dapat dikelompokkan ke dalam empat tema: peradaban dan kebudayaan, peradaban dan kehidupan kota, peradaban dan pembelahan masyarakat, serta peradaban dan kehidupan bernegara” (Peradaban Jawa: Dari Mataram Kuno Sampai Majapahit Akhir, 2011:19). Sekalipun beberapa ahli Antropologi ada yang menyamakan dan mengidentikkan antara “kebudayaan” dan “peradaban” namun merujuk pada istilah yang berbeda (culture dan civilization), maka seharusnya ada perbedaan yang cukup tegas diantara kedua istilah tersebut. Menurut Supratikno, Koentjaraningratlah yang mempertegas perbedaan istilaah antara “kebudayaan” dan “peradaban” sebagaimana dikatakan, “Di Indonesia istilah peradaban dalam analisis ilmiah pertama kali didefinisikan secara tegas oleh Koentjaraningrat (1983:10, Polemik Kebudayaan, 1938). Pakar Antropologi ini menggunakan istilah peradaban dalam arti yang persis sama dengan istilah bahasa Inggris civilizaion, tetapi juga memasukkan pengertian yang berlaku dalam bahasa Indonesia. Istilah tersebut digunakkan untuk menyebut unsur-unsur kebudayaan yang halus dan indah, seperti kesenian, ilmu pengetahuan, sopan santun dan sistem pergaulan dalam masyarakat kompleks. Juga dikaitkan dengan suatu kebudayaan yang memiliki sifat maju dan kompleks dalam aspek-aspek teknologi, seni bangun, seni rupa, sistem kenegaraan dan ilmu pengetahuan” (Ibid., hal 23).
 
Merujuk pada definisi antara “kebudayaan” (culture) dan “peradaban” (civilization) di atas, maka kita tidak pernah menemukan “sifat maju dan kompleks dalam aspek-aspek teknologi, seni bangun, seni rupa, sistem kenegaraan dan ilmu pengetahuan” yang pernah ditemukan di Kebumen bahkan di era sebelum masuknya kolonialisme Belanda. Kasus ditemukannya sejumlah artefak yang diklaim oleh Sdr Ravie Ananda seperti kapak batu dan beliaung serta cincin terbuat dari batu (Terkuaknya Peradaban Kuno Kebumen - http://kebumen2013.com/terkuaknya-peradaban-kuno-kebumen/) bukan menunjukkan adanya sebuah peradaban kuno melainkan lebih memberikan informasi mengenai periodisasi kehidupan manusia pra sejarah dan sejarah yang pernah mendiami wilayah Kebumen kuno.
Sebagaimana kita ketahui bahwa zaman pra sejarah di Indonesia dibagi menjadi dua yaitu zaman batu dan zaman logam. Kita akan fokuskan pada karakteristik dan pembagian pada zaman batu. Zaman batu terbagi menjadi zaman batu tua (palaeolitikum) dan zaman batu tengah (mesolitikum) dan zaman batu muda (neolitikum) serta zaman batu besar (megalitikum).
 
Disebut zaman batu tua sebab alat-alat batu buatan manusia masih dikerjakan secara kasar, tidak diasah atau dipolis. Apabila dilihat dari sudut mata pencariannya, periode ini disebut masa food gathering (mengumpulkan makanan), manusianya masih hidup secara nomaden (berpindah-pindah) dan belum tahu bercocok tanam. Adapun zaman batu tengah (mesolitikum) ditandai dengan ciri-ciri, nomaden dan masih melakukan food gathering (mengumpulkan makanan), alat-alat yang dihasilkan nyaris sama dengan zaman palaeolithikum yakni masih merupakan alat-alat batu kasar, ditemukannya bukit-bukit kerang di pinggir pantai yang disebut Kjoken Mondinger (sampah dapur). Alat-alat zaman mesolithikum antara lain: kapak genggam (Pebble), kapak pendek (hache Courte) pipisan (batu-batu penggiling) dan kapak-kapak dari batu kali yang dibelah. Alat-alat diatas banyak ditemukan di daerah Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Flores. Alat-alat kebudayaan Mesolithikum yang ditemukan di gua Lawa Sampung, Jawa Timur yang disebut Abris Sous Roche antara lain: Flakes (Alat serpih),ujung mata panah, pipisan, kapak persegi dan alat-alat dari tulang. Sementara pada zaman batu muda (neolithikum) adalah alat-alat batu buatan manusia sudah diasah atau dipolis sehingga halus dan indah. Adapun zaman batu besar (megalitikum) menghasilkan sejumlah batu dengan nama, menhir: tugu batu yang dibangun untuk pemujaan terhadap arwah-arwah nenek moyang, dolmen: meja batu tempat meletakkan sesaji untuk upacara pemujaan roh nenek moyang, sarchopagus/keranda atau peti mati (berbentuk lesung bertutup), punden berundak: tempat pemujaan bertingkat, kubur batu: peti mati yang terbuat dari batu besar yang dapat dibuka-tutup, arca/patung batu: simbol untuk mengungkapkan kepercayaan mereka (Benarkah Watu Tumpeng Sebuah Menhir? - http://historyandlegacy-kebumen.blogspot.co.id/2013/03/benarkah-watu-tumpeng-sebuah-menhir.html).
 
Sekali lagi perlu ditegaskan bahwa istilah peradaban lebih menunjuk pada “sifat maju dan kompleks dalam aspek-aspek teknologi, seni bangun, seni rupa, sistem kenegaraan dan ilmu pengetahuan”, dan itu tidak pernah ditemukan di wilayah Kebumen karena Kebumen baik pra kolonial maupun paska kolonial adalah bagian dari peradaban Jawa dan bukan peradaban yang berdiri sendiri.
 
Kabalah Bukan Peradaban
 
Kabalah berasal dari kata dalam bahasa Ibrani Qabel yang artinya “menerima”. Secara historis dan terminologis, Kabalah merupakan bentuk pemahaman dan penghayatan serta praktek esoterisme (aspek batin) agama dalam Yudaisme yang muncul dan mengemuka di Abad Pertengahan. Sekalipun kelompok penganut Kabalah merujuk asal usul ajaran mereka hingga zaman Musa atau setidaknya pada periode penyusunan Talmud, namun fakta historis memperlihatkan bahwa kemunculan Kabalah di Abad Pertengahan dilatarbelakangi peristiwa menyakitkan yang dialami oleh orang-orang Yahudi di Spanyol sehingga mereka harus mengalami penganiayaan dan pemaksaan agama Katolik di era raja Ferdinand dan ratu Isabela. Penganiayaan dan pemaksaan kepindahan agama tersebut membuat mereka mengembangkan sistem ajaran esoteris untuk memberikan makna dan jalan keluar terhadap krisis keagamaan Yudaisme yang terjadi. Perkembangan ajaran Kabalah berpusat di Safed, Galilea, Israel setelah mereka terusir pada tahun 1492 dari Spanyol dan Portugal sebagaimana dikatakan Philip Sigal, “Refugees from the cataclysmic event in Spain and Portugal from 1350 to 1500 swelled Jewish settlement in Palestine, and mystics especially settled at Safed. There they were inspired among other, by Rabbi Moses Cordovero (1522-1570) and Rabbi Isaac Luria (1534-1572)” – (Para pengungsi dari peristiwa bencana besar di Spanyol dan Portugal tahun1350-1500 menimbulkan pembengkakan jumlah permukiman Yahudi di Palestina, dan munculnya kegiatan mistik terutama menetap di Safed. Diantara mereka yang terinspirasi dengan Kabalah antara lain, oleh Rabbi Moses Cordovero (1522-1570) dan Rabbi Isaac Luria (1534-1572) - Judaism: The Evolution of Faith, 1986: p.159).
 
Sebagaimana dikatakan Karen Armstrong bahwa tahun 1492 adalah tahun penting di Spanyol karena ada tiga peristiwa sbb: “Peristiwa pertama terjadi pada tanggal 2 Januari, yaitu ketika pasukan Raja Ferdinand dan Ratu Isabella, dua penguasa Katolik yang pernikahannya pada waktu itu mampu menyatukan dua kerajaan Iberia kuno, Aragon dengan Castile, berhasil menaklukkan negara-kota Granada…Peristiwa kedua pada tahun 1492 terjadi pada tanggal 31 Maret yaitu ketika Ferdinand dan Isabella menandatangani Perintah Pengusiran (Edict of Expulsion) yang dibuat untuk membersihkan Spanyol dari kaum Yahudi…Peristiwa ketiga berkaitan dengan seseorang yang mengalami langsung saat-saat pendudukkan Kristen di Granada. Pada bulan Agustus, Christopher Colombus, seorang kepercayaan Ferdinand dan Isabela, berlayar dari Spanyol untuk menemukan jalur perdagangan baru ke India, suatu misi yang malahan akhirnya menemukan Amerika” (Berperang Demi Tuhan: Fundamentalisme Dalam Islam, Kristen dan Yahudi, 2001: 4-5). Peristiwa pengusiran Yahudi dan pemaksaan keberpindahan agama jika masih ingin tinggal di Spanyol menimbulkan sejumlah penderitaan dan tekanan luar biasa kepada orang-orang Yahudi hingga mereka tenggelam dan mengembangkan ajaran esoteris di Safed di kemudian hari. 
 
Sekalipun secara historis kemunculan ajaran Kabalah mengemuka di Abad Pertengahan, namun sumber-sumber literatur Kitab Suci yang tidak masuk dalam daftar kanon dan bercorak mistik di periode Abad 2 sM menjadi rujukkan berbagai kajian Kabalah seperti Kitab 2 Barukh, Kitab Esdras, Kitab Yesus ben Sira sebagaimana dikatakan D.S. Russel, “During the intertestamental period there exixted in Israel a secret tradition, generally associated with the Jewish apocalyptic writings, which for several centuries went underground, as it were, to emerge at a much later date in the esoteris teaching of the mediaeval Kabbalist” (Selama periode intertestamental telah ada di Israel sebuah tradisi rahasia, yang secara umum terkait dengan tulisan-tulisan apokaliptik Yahudi, yang selama beberapa abad bergerak di bawah tanah, karena itu, muncul dengan sangat banyak di kemudian hari dalam ajaran esoteris dari para penganut Kabbalah abad pertengahan - From Early Judaism to Early Church, 1986: p.99).
 
Sejumlah literatur Kabalah terkemuka antara lain Sefer Yetzirah (Kitab Pembentukkan) dan Sefer Zohar (Kitab Cahaya). Tidak begitu jelas siapa penulis Sefer Yetzirah. Ada yang menghubungkan dengan Rabi Akiva (40 sM - 137 Ms) dan ada yang menghubungkan dengan nama Rabbi Moshe Maimonides (1194 – 1270 Ms). Sementara Sefer Zohar dihubungkan dengan nama Moses De Leon selaku penulisnya (1250 – 1350 Ms).
 
Ada dua kata kunci yang khas dalam ajaran Kabalah yaitu Ein Sof dan Sefirot. Torah mengajarkan bahwa Tuhan Yahweh adalah kekal (Ul 33:27). Dari sini kita memahami bahwa Yahweh adalah tak terhingga atau tak terbatas. Dalam mistisisme Yahudi istilah Eyn Sof digunakan untuk menerangkan Yahweh sebagai yang kekal, tak terhingga dan tak terbatas. Eyn adalah kata Ibrani yang berarti tidak ada atau tanpa, sementara Sof berarti akhir, batas, atau definisi. Jadi Yahweh adalah Eyn Sof, Yahweh adalah tidak terdefinisi. Hal ini menciptakan suatu persoalan. Pada saat kita berusaha menerangkan Yahweh, kita terdorong untuk memberikan-Nya suatu definisi sehingga kita berbicara di luar konteks Eyn Sof. Tidak ada satu pun cara bagi manusia untuk menerangkan Eyn Sof, menerangkan Yahweh, apalagi dengan kapasitas daya pikir kita sebagai makhluk ciptaan-Nya. Yahweh senantiasa tidak dapat ditangkap oleh pemikiran manusia. Sebagai manusia kita mempunyai keterbatasan untuk itu. Karena Eyn Sof tidak dapat diterangkan dengan sifat apapun, dalam mistisisme Yahudi keilahian-Nya diterangkan oleh sepuluh Sefirot (yang bercahaya) yang memancar keluar dari Eyn Sof, yang disebut Eser Sefirot (sepuluh pancaran cahaya). Sefirot ini mungkin sebaiknya dimengerti sebagai hakikatYHWH. Berikut ini adalah kesepuluh Sefirot itu yang masing-masing diasosiasikan dengan nama-nama YHWH:
 
1.    Keter (Mahkota)
2.    Khokmah (Hikmat)
3.    Binah (Wawasan)
4.    Khesed (Karunia)
5.    Gevurah (Kekuatan)
6.    Teferet (Keindahan)
7.    Hod (Kemuliaan)
8.    Netzakh (Kemegahan)
9.    Yesod (Fondasi)
10.    Malkut (Kerajaan)
 
Jika divisualisasikan, gambaran sefirot akan menghasilkan Ets Khayim (pohon kehidupan) sebagaimana di bawah ini.

Namun Eser Sefirot pun dapat dihubungkan dengan unsur-unsur dalam diri manusia yang meliputi, pikiran, keputusan, kebijaksanaan, kepemimpinan, dll. Perhatikan gambar berikut:
 
 
Apa Makna Penemuan dan Inskripsi Dalam Cincin Emas? 
 
Saya menguasai bahasa Ibrani dan ragu apakah cincin emas dengan inskripsi (tulisan yang muncul) adalah huruf Ibrani. Jika ditelaah dengan membaca dari kanan ke kiri sebagaimana bahasa Arab huruf paling kiri masih debatable karena bisa mewakili huruf Ibrani “Khet” (ח) namun bisa juga “Taw” (ת). Huruf paling kanan bisa mewakili huruf “Alef” (א) atau bisa juga “Gimel” (ג). Anehnya, huruf paling tengah sulit diidentifikasi dan tidak mungkin huruf Ibrani. Bahkan jika dibalik susunannya menjadi atas ke bawah malah huruf paling tengah membentuk angka 2. Kekaburan huruf di atas menyulitkan saya membaca arti kata yang diduga bahasa Ibrani tersebut, apalagi tidak menggunakan tanda baca (nikud) semakin menyulitkan.
 
Katakanlah jika cincin emas dengan inskripsi itu merupakan cincin berbahasa Ibrani, maka saya menduga bahwa penemuan cincin tersebut memberikan informasi dua hal yaitu: Pertama, eksistensi orang Yahudi di wilayah Kebumen pada periode kolonial. Romi Zarman pernah menulis dalam bukunya sbb: “Dari suatu peraturan pencatatan sipil untuk orang Yahudi di Hindia Belanda, Het reglement op den burgerlijken stand, voor alle Christenen en Joden, bertanggal 18 Juni 1828, teridentifikasi bahwa orang Yahudi di Jawa terutama tersebar di Batavia, Semarang dan Surabaya…Yahudi Eropa di Jawa tidak tersebar di Batavia, Semarang dan Surabaya, melainkan juga di Bandung, Cilacap, Bogor, Sukabumi, Cimahi, Gombong, Surakarta, Yogyakarta, Walikukun, Malang, Ngawi, Ambarawa, Magelang, Madiun, Purworejo, Purwokerto, Probolonggo dan Pasuruan” (Yudaisme di Jawa Abad 19 dan 20, (tt, hal 1-2). Menariknya, di dalam tabel yang disusun oleh Sdr. Romi Zarman tertulis komposisi orang Yahudi di beberapa wilayah dari tahun yang berbeda sbb: Batavia (20 keluarga Yahudi Eropa, tahun 1861), Batavia (40 jiwa, tahun 1862), Surabaya (3 keluarga Yahudi Persia, tahun 1871), Gombong (5 jiwa, tahun 1901), Semarang (20 jiwa, tahun 1903). Saat saya menghubungi Sdr Romi Zarman dan meminta data perihal orang-orang Yahudi yang pernah tinggal di Gombong, sayangnya dia belum bersedia berbagi data dengan saya sehingga saya sulit mendapatkan keterangan yang cukup mengenai eksistensi orang Yahudi di wilayah Kebumen. Cincin tersebut bisa saja mewakili identitas seorang Yahudi yang beragama Yudaisme, entahkah dia seorang sipil atau militer. Orang-orang Yahudi yang tinggal di Jawa masa kolonial berasal dari Belanda, karena sejak zaman pengusiran orang Yahudi dari Spanyol dan Portugal dan terjadinya inkuisisi Katolik, Amsterdam menjadi tempat paling aman dan Yerusalem Baru bagi orang-orang Yahudi yang hijrah ke negeri itu (Karen Arsmtrong, Ibid., hal 26-27).
 
Kedua, eksistensi penganut aliran Teosofi di wilayah Kebumen. Di era kolonial bukan hanya organisasi-organisasi pergerakan yang bercorak politik yang mengalami perkembangan namun juga gerakan-gerakan bercorak kebatinan yaitu Teosofi dan Freemasonry mengalami perkembangan di wilayah Jawa. Orang-orang Yahudi baik dari militer maupun sipil di Hindia Belanda ada yang menganut Teosofi dan Freemasonry yang sejajar dengan ajaran Kabalah. DR. Th. Stevens, menuliskan bahwa pada zaman Jepang sudah ada beberapa orang Indonesia bergabung dengan Tarekat Mason Bebas (Freemasonry atau Vrimejselarij) sebanyak 50 orang (Tarekat Mason Bebas dan Kehidupan Masyarakat di Hindia Belanda dan Indonesia 1764-1962, 2004: hal 299). Raden Saleh anggota Mason Bebas ditahbiskan tahun 1836 di Loji Eendracht Maakt Macht. Abdul Rahman buyut Sultan Pontianak tahun 1844 menjadi anggota Mason di Loji Vriendschap dan dia adalah Muslim pertama yang ikut Mason Bebas (Ibid., hal 300). Bupati Surabaya bernama R.A. Pandji Tjokronegoro menjadi anggota tahun 1908. Loji Vriendschap merupakan pusat anggota Mason dari Indonesia dan pada tahun 1870 didirikan Loji Mataram di Jawa. Pangeran Soerjodilogo (keturunan Paku Alam) tahun 1871 menjadi anggota Mason. Persemian Loji Mataram dilaksanakan dengan rumah pinjaman dari HB VI di Malioboro (Ibid., hal 301). Abdurachman Surjomihardjo memberikan deskripsi pengaruh Freemasonry di wilayah Yogyakarta sbb: “Sejak akhir abad ke-19, tepatnya tahun 1891, beberapa anggota gerakan itu telah berhubungan dan menanam bibit di lingkungan keluarga Paku Alam. Paku Alam V telah resmi menjadi mason yang kemudian diikuti oleh Paku Alam VI dan Paku Alam VII secara aktif” (Kota Yogyakarta Tempoe Doeloe: Sejarah Sosial 1880-1930, 2008: 49). Salah satu keluarga Paku Alam yaitu K.P.H Notodirdjo menjadi anggota Mason sekaligus sebagai ketua pengurus besar Boedi Oetomo. Abdurachman Surjomihardjo kembali menjelaskan: “Sejak awal paham Budi Utomo memang berhubungan dengan Mason. Ketua Budi Utomo yang pertama, K.R.T. Tirtokusumo, Bupati Karanganyar di Banyumas, mempunyai hubungan perkawinan dengan keluarga Paku Alam” (Ibid). Raden Sujono menulis di Indisch Maconniek Tijdscrift (IMT) menulis bahwa tahun 1928 ada 43 orang Jawa ikut Mason Bebas. Empat dari keturunan raja, dua puluh pegawai pemerintah orang indonesia, sepuluh memegang jabatan yang biasanya dipegang orang Eropa dan tujuh berprofesi sebagai dokter hewan (Tarekat Mason Bebas dan Kehidupan Masyarakat di Hindia Belanda dan Indonesia 1764-1962, hal 314). Iskandar P. Nugraha mengulas berbagai tokoh pergerakan Indonesia banyak yang memiliki latar belakang pendidikan Teosofi seperti Tjipto Mangoenkoesoemo (Pendiri Boedi Oetomo, 1908), Douwes Dekker (pendiri Indische Partij, 1912), bahkan Kiai Haji Agus Salim. Dalam komentarnya yang dikutip oleh Solichin Salam dalam bukunya Hadji Agus Salim, Hidup dan Perdjuangannja, Agus Salim mengatakan simpatinya terhadap organisasi TS sbb, “Saya bergabung ke dalam Theosophical Society karena saya melihat mereka mengakomodasi banyak kaum Muslimin, khususnya Muslim yang diasingkaan karena pendidikan barat-nya namun masih berpegang kuat pada tradisi. Mereka adalah orang-orang yang tertarik pada Theosophical Society” (Teosofi, Nasionalisme dan Elite Modern Indonesia, 2011: hal 32). Melihat latar belakang sebaran dan pengaruh penganut Teosofi khususnya dari latar belakang Yahudi, bisa saja keberadaan cincin emas dengan inskripsi yang diduga menggunakan bahasa Ibrani adalah lambang/simbol keanggotaan aliran Teosofi atau penganut Kabalah dari sekelompok orang Yahudi yang pernah tinggal di wilayah Kebumen dan sekitarnya.
 
Namun dari kedua alternatif penjelasan di atas, saya pribadi tidak bisa memastikan mana yang paling benar dan paling akurat mengingat masih samar-samarnya data yang tersedia, apalagi Sdr. Ravie Ananda yang menuliskan artikel dan memuat gambar tersebut tidak memiliki benda dan data yang dimaksudkan secara fisik. Namun saya telah membuktikan dan meyakinkan kepada para pembaca dan peminat kajian sejarah bahwa Kebumen bukan sebuah peradaban yang berdiri sendiri dan tidak ada yang disebut peradaban Kebumen. Dan yang lebih penting dari artikel ini adalah tidak ada peradaban Kabalistik di Kebumen karena Kabalah bukan nama sebuah peradaban melainkan nama sebuah aliran keagamaan dalam Yudaisme yang berkaitan dengan kajian dan penghayatan yang bersifat esoteris (aspek batiniah dengan Tuhan).
 
Kiranya penjelasan ini memberikan pencerahan pada para pembaca dan peminat sejarah baik sejarah lokal maupun sejarah nasional dan menghindarkan kita dari berbagai kesimpulan dan klaim yang berlebihan dan bersifat pseudo history (sejarah palsu) dikarenakan kurangnya sumber referensi dan lemahnya metodologi penelitian sejarah.





 
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar